Pasar keuangan Indonesia ditutup menguat secara keseluruhan pada perdagangan Selasa (10/2/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), nilai tukar rupiah, hingga pasar obligasi sama-sama mencatatkan kinerja positif.
IHSG menguat lebih dari 1% dan pada penutupan perdagangan melesat 100 poin atau naik 1,24% ke level 8.131,74. Pergerakan saham didominasi penguatan, dengan 556 saham naik, 144 turun, dan 116 stagnan. Nilai transaksi tercatat Rp20,37 triliun, melibatkan 45,77 miliar saham dalam 2,45 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar meningkat menjadi Rp14.778 triliun.
Berdasarkan data pasar, Bumi Resources (BUMI) menjadi saham dengan nilai transaksi terbesar, mencapai Rp5 triliun. Saham BUMI naik 3,33% ke level 248. Aktivitas transaksi besar juga tercatat pada saham BBCA (PT Bank Central Asia Tbk), BMRI (PT Bank Mandiri (Persero) Tbk), BBRI (PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk), dan DEWA (PT Darma Henwa Tbk).
Seluruh sektor perdagangan menguat pada hari itu. Kenaikan terbesar dibukukan sektor properti, konsumer non-primer, dan industri, sementara sektor kesehatan serta infrastruktur mencatatkan penguatan paling kecil.
Dari sisi kontributor indeks, saham-saham blue chip dan emiten konglomerasi menjadi penopang utama IHSG. Astra International (ASII) melesat 3,01% dan menyumbang 8,19 poin indeks. Kontribusi besar berikutnya datang dari Bank Mandiri (BMRI) sebesar 8 poin, disusul Capital Finance Indonesia (CASA) dan Amman Mineral Internasional (AMMN) yang masing-masing menyumbang sekitar 5 poin. Adapun saham yang tercatat menjadi pemberat utama kinerja IHSG antara lain BYAN, BBCA, dan EMAS.
Di pasar valuta asing, rupiah kembali ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat. Rupiah ditutup pada posisi Rp16.790/US$ atau terapresiasi tipis 0,03%, melanjutkan penguatan pada perdagangan sebelumnya saat rupiah menguat 0,39% di level Rp16.795/US$.
Selama perdagangan, rupiah bergerak pada rentang Rp16.769–Rp16.790/US$. Pada saat yang sama, indeks dolar AS (DXY) per pukul 15.00 WIB menguat 0,08% ke level 96,898, setelah pada perdagangan sebelumnya ditutup melemah 0,83% di level 96,816.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti mengatakan penguatan rupiah dipengaruhi mulai terbentuknya kembali kepercayaan pelaku pasar terhadap fundamental ekonomi Indonesia. Ia menyebut, setelah rupiah melemah selama tiga hari, pergerakan mulai berbalik menguat.
Menurut Destry, pemerintah dan Bank Indonesia konsisten membangun komunikasi yang jelas terkait kondisi fundamental ekonomi dalam beberapa hari terakhir. Ia juga menegaskan BI tetap berada di pasar untuk menjaga stabilitas rupiah, termasuk melalui intervensi yang disebutnya sebagai “smart intervention”.
Destry menambahkan, BI akan terus memastikan stabilitas pergerakan rupiah sejalan dengan fundamental ekonomi, dengan indikator seperti pertumbuhan ekonomi yang disebut makin cepat serta tekanan inflasi yang terkendali pada kisaran target 2,5% plus minus 1%.
Di pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun tercatat melandai. Yield SBN 10 tahun ditutup di level 6,436% atau turun 0,44% dari hari sebelumnya di 6,464%. Penurunan yield ini mencerminkan kenaikan harga SBN yang tengah diburu investor.
Sementara itu, dari sentimen global, Wall Street ditutup beragam di tengah kekhawatiran terkait penjualan ritel. Pasar juga menantikan rilis data pengangguran AS dan data inflasi China yang disebut berpotensi menjadi penggerak pasar pada hari ini.

