BERITA TERKINI
Vietnam Bidik Pusat Keuangan Internasional: Keunggulan Pendatang Baru dan Tantangan Membangun Kepercayaan

Vietnam Bidik Pusat Keuangan Internasional: Keunggulan Pendatang Baru dan Tantangan Membangun Kepercayaan

Vietnam melihat peluang untuk membangun pusat keuangan internasional (international financial centre/IFC) di tengah persaingan kawasan yang telah diisi sejumlah pusat keuangan besar. Menurut Pham Nguyen Thanh Tam, Wakil Direktur Produk dan Teknologi di Hydra X Pte Ltd, keunggulan Vietnam sebagai pendatang baru terletak pada kemampuannya merancang model dari awal dengan memanfaatkan gelombang tren yang berkembang bersamaan, seperti kecerdasan buatan (AI), infrastruktur digital, pembayaran lintas batas, keuangan hijau, dan aset digital.

Namun, ia menekankan bahwa keunggulan sebagai pendatang baru hanya akan berarti bila Vietnam mampu menentukan batas yang tegas: aspek mana yang harus mengikuti standar umum dan aspek mana yang dapat menjadi pembeda. Tam menilai sebuah IFC boleh fleksibel dalam model bisnis, tetapi harus kokoh pada standar inti, termasuk kerangka hukum yang jelas, pengawasan yang konsisten, mekanisme penyelesaian sengketa yang efektif, serta kemampuan membangun kepercayaan investor.

Ia juga mengingatkan bahwa Vietnam tetap perlu memastikan konektivitas dan kompatibilitas dengan sistem global, terutama terkait arus modal, data, standar pelaporan, infrastruktur pembayaran, kustodian, dan lembaga pasar. “Vietnam tidak boleh bersaing hanya berdasarkan diferensiasi, tetapi dengan mengisi celah yang hilang atau lemah di mana ia memiliki keunggulan terbesar,” ujarnya. Dalam pandangannya, Vietnam memang pendatang baru, tetapi bila menempuh jalur yang tepat tidak harus terus berada pada posisi tersebut.

Kepercayaan institusional jadi penentu

Tam menilai faktor penentu bagi pusat keuangan bukanlah hilangnya risiko, melainkan bagaimana sistem mengelola risiko sesuai standar yang diperlukan. Ia mengibaratkannya dengan penerimaan vaksin saat pandemi COVID-19: orang bersedia divaksin bukan karena kekhawatiran hilang, tetapi karena ada proses uji coba, penilaian, dan pemantauan keamanan yang independen.

Menurutnya, investor juga tidak menunggu risiko menjadi nol. Mereka akan berpartisipasi ketika melihat sistem yang cukup terstandarisasi, transparan, dan akuntabel. Dalam konteks IFC, ia menyebut kepercayaan dibangun di atas tiga lapisan: aturan yang jelas, operasi yang transparan, dan penegakan hukum yang efektif—dengan penegakan hukum sebagai unsur paling krusial.

“Bagaimana sengketa awal ditangani, jangka waktu penyelesaian, dan apakah putusan ditegakkan—inilah hal-hal yang membentuk kepercayaan pasar,” kata Tam. Ia menambahkan, insentif dapat menarik perhatian awal, tetapi pengalaman operasional—mulai dari penanganan perselisihan, lamanya proses, kualitas putusan, hingga keberlakuan hukum—yang membangun kepercayaan dari waktu ke waktu.

Tantangan: menerjemahkan tekad menjadi kerangka operasional

Ketika ditanya mengenai kendala terbesar Vietnam untuk memiliki IFC yang kompetitif, Tam menyebut hambatan utamanya bukan pada tekad atau permintaan pasar, melainkan pada kemampuan menerjemahkan tekad tersebut menjadi kerangka operasional yang cukup jelas untuk aktivitas keuangan lintas batas.

Ia mendorong rancangan sistem yang “cukup kuat di intinya dan cukup fleksibel di bagian tepinya”. Inti yang dimaksud mencakup aturan yang jelas, pengawasan yang konsisten, akuntabilitas, serta kapasitas penegakan hukum. Adapun “bagian tepi” dapat diisi berbagai jalur operasi dengan tingkat risiko berbeda, tetapi tetap berjalan di atas “sistem operasi” yang sama.

Tam berpendapat Vietnam tidak perlu langsung mengejar kesempurnaan. Yang lebih penting adalah menjaga konsistensi mutlak pada fondasi inti, lalu berkembang secara bertahap. Dengan pendekatan itu, Vietnam bukan hanya membuka pasar, tetapi juga membangun pasar yang dapat dipercaya.

Ho Chi Minh City: butuh “perangkat keras” dan “perangkat lunak”

Tam juga menyoroti bahwa IFC umumnya melekat pada kota tertentu. Jika Ho Chi Minh City ingin menjadi IFC, ia menilai kota tersebut perlu menyiapkan dua elemen: perangkat keras dan perangkat lunak. Perangkat keras mencakup transportasi, bandara, perkantoran, dan koneksi fisik. Namun, ia menekankan bahwa bukan sekadar jumlah yang penting, melainkan kualitas desain, keandalan, serta kemampuan memberikan layanan cepat dan berkelanjutan.

Sementara itu, perangkat lunak mencakup infrastruktur digital, data, sistem pembayaran, koneksi internasional, aturan main yang jelas, prosedur yang efisien, layanan profesional, lingkungan hidup yang terbuka, serta kemampuan bekerja sesuai standar internasional. Menurutnya, IFC bukan hanya soal gedung pencakar langit dan arus modal, melainkan tentang kesiapan sebuah kota untuk menjadi mitra kerja dunia.

Merancang IFC agar modal masuk ke ekonomi riil

Terkait kekhawatiran bahwa arus modal besar di IFC tidak otomatis mengalir ke ekonomi riil, Tam menyebut hal itu sebagai risiko desain yang signifikan. Ia memperingatkan bahwa tanpa struktur produk dan batasan operasional yang tepat, modal bisa berputar terutama dalam transaksi pembiayaan sekunder, dengan dampak terbatas pada produksi domestik, logistik, atau inovasi.

Karena itu, ia menilai portofolio produk inti pada tahap awal harus dipilih sangat hati-hati: sempit, mudah diawasi, dan memiliki landasan ekonomi yang jelas. Prioritasnya adalah transaksi yang terkait langsung dengan perdagangan dan operasi bisnis, seperti pembayaran impor/ekspor, pembiayaan faktur, pembayaran transportasi, atau lindung nilai nilai tukar berbasis kontrak yang telah divalidasi. Setelah fondasi stabil, barulah pusat tersebut dapat diperluas secara bertahap ke aliran investasi yang terkontrol.

Ia juga menekankan pentingnya memikirkan arus keluar modal, bukan hanya arus masuk. Menurutnya, investor membutuhkan strategi keluar yang jelas untuk bertahan dalam jangka panjang, sering kali melalui penawaran umum perdana (IPO) atau merger dan akuisisi. Strategi keluar, kata dia, merupakan mekanisme untuk mendaur ulang modal dan mendistribusikan kembali talenta bagi siklus pertumbuhan berikutnya.

Batasan operasional dan ketahanan sistem

Untuk pertumbuhan yang berkelanjutan, Tam menilai pembukaan pasar akan selalu membawa potensi volatilitas. Karena itu, volatilitas harus ditempatkan dalam arsitektur tata kelola yang dapat dikelola. Ia mengusulkan langkah awal berupa perancangan batasan operasional yang jelas dalam tiga lapisan: entitas mana yang boleh berpartisipasi, produk apa yang dapat ditawarkan, serta aliran modal dan data apa yang harus dilaporkan dan dilacak dalam kondisi tertentu.

Rancangan tersebut, menurutnya, perlu disertai mekanisme stratifikasi risiko, batasan posisi, kewajiban pelaporan, peringatan otomatis, dan dasbor pemantauan waktu nyata. Ia memperingatkan bahwa ekspansi cepat tanpa kemampuan pemantauan yang sepadan dapat memicu situasi “ekspansi cepat diikuti dengan pengetatan cepat”.

Selain risiko pasar, Tam menekankan kebutuhan ketahanan operasional, termasuk penanganan kegagalan sistem, keamanan siber, pelanggaran data, krisis kepercayaan, serta mekanisme merespons sengketa. Untuk operasi baru, ia menyarankan penggunaan sandbox sebagai penyangga pengujian bersyarat, lengkap dengan aturan penghentian yang ditetapkan sebelum ekspansi resmi dilakukan.