Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat anjlok lebih dari 5,56 persen ke level 7.156,68 pada perdagangan Senin (9/3/2026). Namun, pada penutupan sesi I, IHSG ditutup sedikit menguat ke posisi 7.321, atau masih turun 264,62 poin (3,49 persen).
Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik, mengatakan penurunan IHSG dipicu meningkatnya ketidakpastian akibat faktor eksternal. Menurutnya, situasi dipengaruhi memanasnya perang Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran.
“Saat ini kita menghadapi kondisi uncertainty yang sangat tinggi akibat faktor eksternal,” ujar Jeffrey, Senin (9/3/2026).
Meski demikian, Jeffrey menilai pasar saat ini lebih siap menghadapi gejolak geopolitik. Ia melihat investor pasar modal cenderung bersikap lebih rasional dengan memperhatikan faktor fundamental serta menyesuaikan strategi investasi sesuai toleransi risiko masing-masing.
Jeffrey juga menyebut infrastruktur sistem dan pengaturan perdagangan di BEI telah dipersiapkan untuk menghadapi gejolak pasar. Ia mencontohkan pengalaman pada April 2025 ketika Amerika memberlakukan kebijakan tarif resiprokal.
Sementara itu, riset PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) memperkirakan gejolak di pasar modal masih berlanjut hingga akhir pekan ini. Equity Analyst IPOT, David Kurniawan, memproyeksikan pada periode 9–13 Maret 2026 IHSG bergerak pada area support 7.400 dan resistance 7.900.
Sejalan dengan meningkatnya tensi AS-Israel dan Iran, David mengimbau trader dan investor mencermati sentimen Rating Risk serta perkembangan geopolitik. Ia menambahkan, fokus pelaku pasar pada pekan depan kemungkinan masih tertuju pada stabilitas sentimen investor terhadap ekonomi domestik, terutama setelah revisi outlook utang Indonesia oleh Fitch Ratings yang memicu kehati-hatian di pasar.

