JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia melemah tajam pada pembukaan perdagangan Senin (9/3/2026). Indeks acuan pasar saham nasional itu turun 211,38 poin atau 2,79% ke posisi 7.374,31.
Pelemahan juga terjadi pada kelompok saham unggulan. Indeks LQ45 yang berisi 45 saham berlikuiditas tinggi turun 22,31 poin atau 2,87% ke level 753,74 pada awal sesi.
Sejak pembukaan perdagangan, IHSG langsung bergerak di zona merah di tengah meningkatnya tekanan jual. Mayoritas saham tercatat mengalami penurunan harga, mencerminkan sentimen pasar yang cenderung negatif.
Aktivitas perdagangan pada sesi awal mencatat nilai transaksi sekitar Rp5,8 triliun, dengan volume sekitar 2,9 miliar saham. Frekuensi transaksi tercatat lebih dari 480 ribu kali. Jumlah saham yang melemah jauh lebih banyak dibandingkan saham yang menguat.
Secara sektoral, hampir seluruh sektor berada di zona merah. Sektor perbankan, teknologi, energi, dan barang konsumsi menjadi penekan utama. Penurunan saham-saham berkapitalisasi besar turut memperdalam koreksi IHSG pada awal perdagangan.
Tekanan di pasar saham domestik disebut dipengaruhi faktor eksternal dan domestik. Dari sisi global, ketidakpastian ekonomi dunia dan pergerakan pasar saham global yang volatil mendorong investor bersikap lebih berhati-hati, termasuk melakukan aksi ambil untung pada sejumlah saham.
Selain itu, meningkatnya tensi geopolitik global turut memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasar keuangan internasional, sehingga sebagian investor mengalihkan aset ke instrumen yang dinilai lebih aman.
Dari dalam negeri, pelaku pasar mencermati sejumlah indikator makroekonomi seperti pergerakan nilai tukar rupiah, perkembangan inflasi, serta data cadangan devisa. Faktor-faktor tersebut ikut memengaruhi keputusan investor dalam bertransaksi.
Secara teknikal, IHSG masih berada dalam fase koreksi setelah pada pekan sebelumnya mengalami tekanan jual yang cukup besar. Pergerakan indeks yang berada di bawah sejumlah level rata-rata pergerakan jangka pendek menunjukkan pasar masih mencari titik keseimbangan baru.
Meski demikian, pelemahan pada awal perdagangan dinilai masih wajar sebagai bagian dari dinamika pasar. Dalam jangka pendek, IHSG diperkirakan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan konsolidasi, seiring pelaku pasar mencermati perkembangan ekonomi global, arah kebijakan suku bunga bank sentral, serta kinerja emiten.

