Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan pelemahan dalam beberapa hari terakhir seiring meningkatnya tekanan jual di pasar. Pada penutupan perdagangan Jumat, 6 Maret 2026, IHSG turun 1,62% ke level 7.585,69. Tekanan berlanjut pada Senin, 9 Maret 2026, ketika IHSG kembali anjlok sekitar 4,7% hingga menyentuh 7.214,7.
Pelemahan tersebut dipicu kombinasi sentimen negatif global dan domestik. Dari sisi global, ketegangan geopolitik di Timur Tengah meningkat seiring konflik yang melibatkan Israel, Amerika Serikat, dan Iran. Kekhawatiran pasar bertambah setelah adanya blokade Selat Hormuz yang berpotensi mengganggu rantai pasok energi global dan mendorong harga minyak menembus US$100 per barel.
Dari dalam negeri, sentimen datang dari Fitch Ratings yang pada 4 Maret 2026 merevisi outlook investasi Indonesia menjadi negatif. Kombinasi ketidakpastian global dan kekhawatiran terhadap prospek ekonomi domestik mendorong aksi risk-off di kalangan pelaku pasar.
Dalam situasi tersebut, investor institusi maupun individu cenderung menarik likuiditas sementara waktu sambil menunggu perkembangan situasi global serta keputusan lanjutan dari MSCI terkait evaluasi pasar modal Indonesia. Kondisi ini memperbesar tekanan jual dan membuat koreksi IHSG semakin dalam.
Meski demikian, dinamika aliran modal global dinilai dapat membuka peluang bagi pasar saham Indonesia. Sejumlah pasar saham besar seperti Amerika Serikat disebut berada pada valuasi yang relatif tinggi, sehingga sebagian manajer investasi global mulai merasionalisasi portofolionya. Rotasi dana ini berpotensi mengarah ke kawasan yang dianggap masih menarik secara valuasi, termasuk negara berkembang di Asia, dengan Indonesia sebagai salah satu kandidat tujuan aliran dana.
Di tengah koreksi, sejumlah saham berkapitalisasi besar disebut mulai memasuki area valuasi yang lebih murah dibandingkan rata-rata historisnya. Data pasar menunjukkan beberapa saham big caps di indeks LQ45 diperdagangkan dengan Price to Earnings Ratio (PER) trailing twelve months di bawah 10 kali, yang kerap dipandang sebagai indikasi potensi undervaluation bagi investor yang menitikberatkan pada fundamental.
Pada sektor perbankan, saham BBRI, BMRI, dan BBNI tercatat memiliki PER di kisaran 7,8x hingga 9,8x. Ketiga bank BUMN ini juga disebut masih mencatatkan profitabilitas tinggi dengan Net Profit Margin yang melampaui rata-rata historis lima tahun terakhir.
Selain perbankan, EMTK disebut memiliki valuasi PER sekitar 6 kali dengan tingkat profitabilitas yang sangat tinggi. Sementara itu, ADRO dan TOWR juga dinilai memiliki fundamental yang solid dengan margin laba yang kuat, ditopang prospek sektor komoditas dan infrastruktur digital.
Bagi investor yang berfokus pada fundamental, koreksi pasar kerap dipandang sebagai fase yang dapat menciptakan margin of safety. Ketika kepanikan mereda dan aliran dana asing kembali masuk, saham-saham dengan fundamental kuat dan valuasi lebih rendah berpeluang memimpin fase pemulihan.

