Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva memperingatkan bahwa kenaikan harga minyak berpotensi mendorong inflasi global lebih tinggi, di tengah meningkatnya ketidakpastian yang kembali menguji ketahanan ekonomi dunia.
Dalam wawancara dengan Bloomberg Television di sela-sela konferensi “Asia 2050” IMF di Bangkok, Thailand, Georgieva mengatakan ekonomi global sejauh ini menunjukkan ketahanan terhadap guncangan yang terjadi berturut-turut, dengan pertumbuhan saat ini sekitar 3,3%. Namun, ia menilai ketahanan tersebut kini menghadapi ujian baru akibat ketidakpastian yang meningkat.
Georgieva menyoroti bahwa banyak negara sedang menghadapi dampak krisis baru di Timur Tengah, sementara “ruang kebijakan” sudah terkikis setelah berbagai guncangan sebelumnya. Di sisi lain, ia mencatat banyak perekonomian di Asia telah memperkuat kapasitas fiskal dan cadangan devisa dalam dua dekade terakhir.
IMF, menurut Georgieva, saat ini menjalankan program dukungan di 50 negara dan menyatakan kesiapan untuk memperluas perjanjian yang ada atau membentuk program baru bila diperlukan. IMF juga telah memulai diskusi dengan beberapa negara anggota mengenai kemungkinan dukungan neraca pembayaran jika ketidakstabilan meningkat.
Ia menyampaikan perhatian khusus pada negara-negara pengimpor minyak, negara-negara kepulauan Pasifik yang berada “di ujung rantai pasokan”, serta negara-negara berpendapatan rendah dengan tingkat utang yang tinggi.
Georgieva merekomendasikan agar negara-negara mengambil langkah tegas untuk memperkuat fondasi ekonomi di tengah ketidakpastian, termasuk memantau perkembangan harga dan nilai tukar secara cermat, serta membangun kembali ruang fiskal pada masa ekonomi sedang menguntungkan.
Sebelumnya, pada 5 Maret, Georgieva juga memperingatkan dunia memasuki fase ketika “guncangan terjadi lebih sering dan tidak terduga”, dengan konflik di Timur Tengah sebagai contoh terbaru. Ia mendorong para pembuat kebijakan menyiapkan diri menghadapi tantangan tidak hanya terkait geopolitik, tetapi juga teknologi disruptif dan konflik perdagangan.

