International Monetary Fund (IMF) kembali menyoroti arah kebijakan ekonomi China. Dalam laporan tinjauan tahunannya, IMF menilai strategi pertumbuhan Negeri Tirai Bambu masih terlalu bertumpu pada ekspor dan sektor industri, sehingga memicu ketidakseimbangan di dalam negeri sekaligus menambah tekanan bagi mitra dagang.
IMF meminta Beijing menggeser model pertumbuhan menuju konsumsi domestik. Dewan eksekutif IMF menegaskan bahwa transisi ke model berbasis konsumsi perlu menjadi prioritas.
Sorotan utama IMF tertuju pada lonjakan surplus transaksi berjalan China yang dinilai menimbulkan dampak limpahan yang merugikan bagi negara lain. Untuk 2025, IMF memperkirakan surplus mencapai 3,3% dari produk domestik bruto (PDB), lebih dari dua kali lipat proyeksi sebelumnya. Perhitungan awal Bloomberg bahkan menunjukkan surplus dapat menembus 3,7% dari PDB, ditopang rekor kelebihan ekspor barang hingga US$ 1,2 triliun.
IMF juga menilai pelemahan riil renminbi (RMB) yang disesuaikan inflasi ikut mendongkrak daya saing ekspor China. Staf IMF memperkirakan nilai yuan berada sekitar 16% di bawah nilai wajarnya. Kondisi ini dinilai membuat produk China lebih kompetitif di pasar global, sementara impor tertahan karena lemahnya permintaan domestik.
Penilaian tersebut sejalan dengan analisis ekonom Goldman Sachs yang sebelumnya memperingatkan bahwa ekspansi kapasitas ekspor China berpotensi menjadi beban bersih bagi perekonomian global.
Di sisi lain, pemerintah China menolak kritik tersebut. Perwakilan China di dewan IMF, Zhang Zhengxin, menyatakan pertumbuhan ekspor pada 2025 terutama didorong daya saing dan inovasi, bukan manipulasi kurs. Ia juga menilai estimasi surplus yang disampaikan IMF terlalu besar.
Meski demikian, tekanan terhadap China diperkirakan meningkat menjelang sidang tahunan National People's Congress yang akan menetapkan target ekonomi 2026. IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi China melambat dari 5% pada 2025 menjadi 4,5% pada 2026. Sejumlah ekonom memproyeksikan target resmi tahun depan akan berada di kisaran 4,5%–5%.
Selain persoalan eksternal, IMF juga menyoroti tantangan domestik yang dinilai kian berat. Hampir sepertiga pertumbuhan pada 2025 disebut berasal dari ekspor neto, ketergantungan yang menurut IMF memicu kekhawatiran kelebihan kapasitas dan meningkatkan risiko aksi balasan dagang dari mitra. Pada saat yang sama, tekanan deflasi dinilai belum mereda, diperparah koreksi panjang sektor properti serta lemahnya konsumsi rumah tangga.
IMF menyarankan kombinasi stimulus fiskal yang lebih ekspansif dan reformasi struktural. Pendanaan pemerintah pusat untuk menyelesaikan proyek properti mangkrak dinilai penting guna memulihkan kepercayaan konsumen.
Namun, ruang fiskal disebut semakin sempit. IMF memperkirakan rasio utang pemerintah China naik hampir 127% dari PDB pada 2025 dan berpotensi melampaui 135% pada 2026. Beban utang pemerintah daerah juga dinilai membatasi kemampuan untuk mendorong permintaan.
IMF turut menghitung biaya kebijakan industri China mencapai sekitar 4% dari PDB pada 2023, jauh di atas bantuan negara Uni Eropa yang sekitar 1,5%. Menurut IMF, pengurangan kebijakan industri yang dinilai tidak beralasan hingga 2% dari PDB dapat membantu memperbaiki produktivitas dan efisiensi alokasi sumber daya.

