BERITA TERKINI
Investor Domestik Dorong IHSG Rebound ke 8.355 di Tengah Tekanan Jual Asing

Investor Domestik Dorong IHSG Rebound ke 8.355 di Tengah Tekanan Jual Asing

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mulai merangkak naik setelah sempat tertekan dampak pengumuman MSCI yang memicu penurunan tajam pada pekan terakhir Januari. Pada perdagangan Kamis (19/2), IHSG kembali menguat hingga mencapai level 8.355.

Investment Specialist Korea Investment Sekuritas Indonesia, Ahmad Faris Mu’tashim, menilai penguatan tersebut turut ditopang oleh langkah investor domestik yang memanfaatkan koreksi sebagai peluang membeli saham di harga lebih rendah. Menurutnya, investor yang masih memiliki alokasi kas memilih menambah portofolio saat harga sedang “diskon”, sehingga pergerakan indeks terbantu oleh aliran dana domestik.

“Kami rasa saat ini sudah mulai memiliki pengetahuan dasar yang lebih memadai karena banyaknya informasi dari platform sosial media ataupun sarana yang disediakan sekuritas,” ujar Ahmad, Rabu (18/2).

Setelah MSCI menyatakan akan menangguhkan indeks Indonesia dalam rebalancing periode Februari 2026, sejumlah lembaga pemeringkat lain juga mengumumkan penurunan rating Indonesia. Dampaknya, IHSG sempat anjlok 8% selama dua hari berturut-turut hingga otoritas bursa memberlakukan trading halt atau penghentian sementara perdagangan. IHSG juga pernah turun ke level 7.922 pada 2 Februari 2026.

Ahmad menambahkan, saat pelemahan terjadi, investor domestik—baik individu maupun institusi—yang masih memegang kas cenderung meningkatkan kepemilikan saham pada level harga yang lebih rendah. Kondisi ini dinilai membantu IHSG melakukan rebound, seiring dominannya partisipasi investor domestik dalam aktivitas perdagangan selama setahun terakhir.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas, David Kurniawan, menyampaikan pandangan serupa. Ia menilai investor domestik kini menjadi pilar utama pasar modal Indonesia, baik dari kalangan ritel maupun institusi seperti dana pensiun dan perusahaan asuransi. Ketahanan itu terlihat ketika IHSG mampu bertahan di kisaran 8.200 meskipun investor asing membukukan aksi jual bersih besar dalam sebulan terakhir.

Menurut David, likuiditas domestik yang besar dinilai mampu menyerap tekanan jual asing, terutama pada saham-saham perbankan. “Selama pertumbuhan ekonomi terjaga di level 5,11% dan inflasi terkendali, investor domestik akan tetap optimistis melakukan akumulasi beli saat harga saham sedang terkoreksi (buy on weakness),” ujarnya.

David memperkirakan IHSG masih berpeluang bergerak dalam rentang 8.150–8.400 dengan dukungan kekuatan investor lokal.

Data Stockbit Sekuritas menunjukkan sekitar 68,23% dari total nilai transaksi di pasar modal Indonesia berasal dari investor domestik, sementara 31,77% sisanya dilakukan investor asing. Dalam satu bulan terakhir, investor domestik mencatatkan nilai beli Rp 418,48 triliun dan nilai jual Rp 392,39 triliun.

Di sisi lain, arus keluar dana asing masih terjadi pascapengumuman MSCI dan berlanjut hingga pekan kedua Februari 2026. Pada periode 9–13 Februari 2026, investor global membukukan jual bersih Rp 5,47 triliun, meningkat dibandingkan pekan sebelumnya yang tercatat Rp 1,13 triliun. Jika ditarik sebulan ke belakang, outflow dana asing dari pasar modal Indonesia mencapai Rp 26,55 triliun.

Kendati demikian, sejumlah analis menilai peluang kembalinya dana asing tetap terbuka. Ahmad menilai tren keluarnya dana asing berpotensi mereda seiring pulihnya kepercayaan investor institusi. Ia menyoroti keputusan S&P yang tetap melanjutkan proses rebalancing saham-saham Indonesia untuk periode Maret 2026 sebagai sentimen positif, berbeda dengan MSCI dan FTSE yang sebelumnya memicu tekanan.

“Dari hal tersebut, ini menjadi sinyal awal adanya flow asing untuk masuk ke pasar saham Indonesia,” kata Ahmad.

S&P sebelumnya menyatakan tetap memantau perkembangan terkait transparansi kepemilikan saham di Indonesia dan akan melanjutkan rebalancing pada periode Maret 2026.