Di tengah serangan militer dan blokade ekonomi yang kian intensif, Iran disebut mengembangkan strategi bertahan yang memanfaatkan ekosistem Bitcoin dan mata uang kripto. Langkah ini muncul ketika mata uang nasional Iran, rial, mengalami depresiasi tajam dalam satu dekade terakhir.
Mengutip Al Jazeera, pelemahan rial pada 2025 berlangsung cepat. Pada akhir Desember 2025, nilai tukar disebut menembus lebih dari 1,4 juta rial per dolar AS, naik dari sekitar 700 ribu pada Januari 2025 dan sekitar 900 ribu pada pertengahan 2025.
Di tengah sanksi ekonomi global yang dipimpin Amerika Serikat, Iran disebut mengadopsi mekanisme adaptif dengan memanfaatkan teknologi blockchain sebagai jalur alternatif transaksi keuangan. Salah satu strategi utamanya adalah mengoptimalkan sumber daya energi domestik. Dengan listrik yang murah karena subsidi pemerintah, Iran disebut menjadi salah satu pemain penting dalam penambangan Bitcoin, dengan estimasi penguasaan 2% hingga 5% dari total hashrate jaringan global.
Sejumlah analis memperkirakan biaya produksi satu keping Bitcoin di Iran sekitar 1.300 dolar AS (sekitar Rp22 juta), jauh di bawah rata-rata global yang disebut mencapai 70.000 dolar AS (sekitar Rp1,185 miliar) pada kuartal kedua 2025. Dengan harga pasar Bitcoin yang bertahan di atas 70.000 dolar AS, aktivitas ini dinilai membuka sumber devisa baru yang tidak bergantung pada sistem keuangan tradisional.
Analis strategi Bitcoin asal Amerika Serikat, Jake Percy, menilai pemanfaatan kripto di Iran bukan semata spekulasi warga. Ia menyebutnya sebagai infrastruktur keuangan yang dikelola negara, yang memungkinkan pembayaran kepada pemasok luar negeri untuk mesin, bahan bakar, dan komponen militer melalui dompet digital tanpa harus melewati perbankan global.
Temuan analitik blockchain turut memperkuat gambaran besarnya ekosistem kripto di Iran. Data dari Chainalysis menyebut nilai ekosistem kripto Iran mencapai sekitar 7,8 miliar dolar AS (sekitar Rp132 triliun) pada 2025. Disebutkan pula bahwa lebih dari setengah aliran dana masuk pada akhir 2025, sekitar 3 miliar dolar AS (sekitar Rp50,8 triliun), terkait dengan alamat dompet yang diduga milik Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Penggunaan kripto juga terlihat di tingkat masyarakat. Setelah serangan balasan AS-Israel pada akhir Februari, terjadi lonjakan penarikan dana kripto dari bursa lokal terbesar, Nobitex, hingga 700% dalam hitungan jam. Dalam tiga hari, total aset keluar dilaporkan mencapai lebih dari 10,3 juta dolar AS (sekitar Rp174 miliar). Warga disebut memindahkan aset ke dompet pribadi (self-custody) sebagai langkah perlindungan terhadap risiko pemadaman internet, penyitaan bank, atau ketidakstabilan ekonomi.
Laporan Elliptic mencatat bahwa dalam kondisi internet padam atau situasi tidak stabil, pengguna kripto di Iran cenderung menarik aset dari bursa sebelum akses terputus, lalu menyimpannya di luar jangkauan otoritas.
Di sisi lain, Bank Sentral Iran juga disebut mengambil peran melalui akuisisi stablecoin. Dalam upaya menstabilkan rial, lembaga tersebut tercatat mengakuisisi lebih dari 507 juta dolar AS dalam bentuk USDT (sekitar Rp8,58 triliun) dalam kurun satu tahun. Langkah ini dinilai memberi akses terhadap likuiditas “dolar digital” tanpa bergantung pada cadangan fisik yang dibekukan di luar negeri.
Meski demikian, keberadaan stablecoin disebut belum mampu menghentikan penurunan nilai rial. Namun, aset kripto yang nilainya dipatok terhadap dolar AS itu dipandang menyediakan alat tukar yang lebih stabil untuk transaksi impor di luar sistem SWIFT yang diawasi ketat oleh Amerika Serikat.
Strategi Iran memanfaatkan Bitcoin dan kripto memunculkan kekhawatiran baru di Washington. Sistem sanksi tradisional selama ini mengandalkan kontrol atas aliran dolar, sementara mata uang kripto yang terdesentralisasi dinilai membuka celah bagi transaksi lintas negara yang lebih sulit dilacak. Laporan terbaru juga menyebut bursa global seperti Binance menghadapi tekanan penyelidikan dari senator AS terkait kekhawatiran adanya aliran dana dari entitas yang terkena sanksi di Iran melalui platform tersebut.
Sejumlah pengamat menilai fenomena ini menunjukkan dua sisi kripto sekaligus: menjadi instrumen perlindungan nilai bagi warga yang terdampak inflasi, namun juga dapat menjadi alat negara untuk mempertahankan aktivitasnya di tengah tekanan internasional. Dengan cadangan Bitcoin yang terus diakumulasi melalui penambangan dan jalur perdagangan yang disebut makin canggih, Iran dinilai tengah membangun pola bertahan baru dalam perang ekonomi berbasis blockchain.

