BERITA TERKINI
Ketegangan Iran-AS Dorong Volatilitas Pasar, IHSG Dibuka Melemah

Ketegangan Iran-AS Dorong Volatilitas Pasar, IHSG Dibuka Melemah

JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia memulai perdagangan Jumat (6/3/2026) di zona merah di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat (AS). Kondisi tersebut memicu kehati-hatian investor global, sekaligus menambah ketidakpastian terhadap arah kebijakan moneter bank sentral AS.

Pada pembukaan perdagangan, IHSG turun 11,07 poin atau 0,14 persen ke level 7.699,47. Indeks LQ45 yang berisi saham-saham unggulan ikut melemah 1,61 poin atau 0,20 persen ke posisi 786,21. Pelemahan ini mencerminkan sikap wait and see pelaku pasar yang mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah serta dampaknya terhadap perekonomian global.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menilai tekanan pada pasar saham berpotensi berlanjut dalam jangka pendek, terutama karena pergerakan IHSG berada dekat area teknikal penting. Ia memperkirakan penguatan yang sempat terjadi sebelumnya tidak akan bertahan lama.

“Kiwoom Research perkirakan technical rebound yang terjadi kemarin tidak akan berumur panjang, secara teknikal persis di gerbang resistance kritikal 7.712-7.720. Para investor disarankan untuk masih perbesar posisi cash di penghujung pekan ini untuk antisipasi high volatility during weekend,” ujar Liza dalam kajiannya di Jakarta, Jumat.

Sentimen negatif pasar global saat ini dipengaruhi eskalasi konflik yang melibatkan Iran, AS, dan Israel. Ketegangan yang telah berlangsung enam hari terakhir menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi. Iran dilaporkan meluncurkan gelombang serangan rudal ke wilayah Israel, sementara jet tempur AS dan Israel terus menggempur sejumlah target di Iran.

Situasi disebut semakin kompleks setelah adanya laporan serangan terhadap kapal tanker di kawasan Teluk serta aktivitas drone Iran yang memasuki wilayah Azerbaijan. Perkembangan tersebut meningkatkan risiko konflik meluas ke kawasan negara-negara produsen energi lainnya.

Di tengah ketegangan, Presiden AS Donald Trump menuai kontroversi setelah menyatakan AS ingin memiliki peran dalam menentukan kepemimpinan Iran di masa depan. Dana Moneter Internasional (IMF) juga memperingatkan konflik berkepanjangan dapat menguji ketahanan ekonomi global. Jika berlangsung lama, situasi ini berpotensi memicu tekanan inflasi sekaligus memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia.

Ketidakpastian geopolitik turut memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga The Federal Reserve. Bank sentral AS dijadwalkan menggelar pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 17–18 Maret 2026. Namun, meningkatnya ketegangan di Timur Tengah membuat proyeksi pasar berubah.

“Pasar kini memperkirakan pemangkasan suku bunga The Fed sekitar 40 bps sepanjang 2026, turun dari sekitar 50 bps sebelum konflik dimulai,” kata Liza. Perubahan ini mencerminkan kekhawatiran bahwa lonjakan harga energi dapat menahan laju pelonggaran kebijakan moneter.

Di pasar komoditas, ketegangan geopolitik langsung tercermin pada lonjakan harga minyak. Minyak Brent naik sekitar 4,93 persen menjadi 85,41 dolar AS per barel, sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 8,51 persen menjadi 81,01 dolar AS per barel. Kenaikan harga energi berpotensi meningkatkan tekanan inflasi global apabila konflik berlanjut.

Selain faktor geopolitik, pasar juga mencermati tanda perlambatan ekonomi China yang mengemuka dalam forum politik tahunan Two Sessions. China merupakan mitra dagang terbesar Indonesia, dengan porsi sekitar 24 persen dari total ekspor nonmigas pada 2025 senilai sekitar 64,82 miliar dolar AS. Perlambatan aktivitas industri di China dinilai berpotensi menekan permintaan komoditas dan bahan baku dari Indonesia.

Dampak perlambatan juga dapat menjalar ke investasi. China tercatat sebagai salah satu investor terbesar di Indonesia dengan realisasi investasi sekitar 7,5 miliar dolar AS pada 2025. Secara historis, setiap perlambatan satu persen pertumbuhan ekonomi China disebut dapat mengurangi pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar 0,3 persen.

Tekanan pasar turut terlihat pada bursa global. Pada perdagangan Kamis (5/3/2026), mayoritas bursa saham Eropa ditutup melemah, dengan Euro Stoxx 50 turun 1,46 persen, FTSE 100 Inggris melemah 1,45 persen, DAX Jerman terkoreksi 1,61 persen, dan CAC Prancis turun 1,49 persen.

Di Wall Street, indeks Dow Jones Industrial Average turun 1,61 persen ke 47.954,74. Indeks S&P 500 melemah 0,56 persen menjadi 6.830,71 dan Nasdaq Composite turun 0,26 persen ke 22.748,99.

Sementara itu di Asia pada perdagangan pagi, pergerakan bursa cenderung beragam. Nikkei Jepang menguat 0,15 persen ke 55.358,69, Hang Seng Hong Kong naik 1,04 persen ke 25.584,93, dan Shanghai naik tipis 0,01 persen ke 4.108,90. Sebaliknya, Strait Times Singapura melemah 0,37 persen ke 4.828,66.

Pergerakan tersebut menunjukkan pasar global masih berada dalam fase volatilitas tinggi seiring investor memantau perkembangan konflik geopolitik dan arah kebijakan moneter global dalam waktu dekat.