Pertumbuhan ekonomi global dalam beberapa tahun terakhir, terutama sepanjang 2023 hingga 2025, disebut mengalami perlambatan dibanding periode sebelumnya. Situasi ini juga dinilai semakin sulit diprediksi seiring meningkatnya ketidakpastian global yang memengaruhi stabilitas perekonomian dunia.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Kalimantan Barat, Doni Septadijaya, mengatakan dinamika tersebut tidak terlepas dari rangkaian peristiwa besar yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Ia menyinggung pandemi Covid-19 pada 2019 serta kemunculan kebijakan tarif yang tajam pada 2024 sebagai faktor yang ikut membentuk arah ekonomi global saat ini.
“Pada 2019 kita mengalami pandemi Covid-19, lalu di 2024 muncul kebijakan tarif yang tajam. Dulu kita berharap bisa tumbuh bersama, tetapi sekarang masing-masing negara lebih mengutamakan kepentingannya sendiri,” ujar Doni dalam kegiatan Coffee Morning Media di Pojok Khatulistiwa BI Kalbar, Selasa, 10 Februari 2026.
Doni menilai pergeseran orientasi kerja sama global terlihat dari kebijakan “America First” yang menjadi contoh kecenderungan negara-negara mengedepankan kepentingan domestik. Menurutnya, negara kini cenderung membangun kemitraan yang paling menguntungkan bagi kebutuhan dalam negeri, sementara konsep pertumbuhan bersama dan saling mendukung dinilai semakin memudar. Kondisi tersebut, kata dia, bergeser menjadi upaya masing-masing negara menjaga keamanan ekonominya sendiri.
Meski ketidakpastian meningkat, Doni menyebut ekonomi dunia masih ditopang sejumlah negara besar seperti Jepang, India, dan Tiongkok yang kuat di sektor ekspor. Namun, ia juga menyoroti penguatan indeks dolar Amerika Serikat (AS) yang menunjukkan dominasi mata uang AS dibanding mata uang lainnya.
Penguatan dolar AS itu disebut mendorong arus modal global kembali ke Amerika Serikat. Dalam situasi krisis maupun perlambatan pertumbuhan, dana asing cenderung mengalir ke negara dengan mata uang terkuat yang dipandang sebagai aset aman.
Menurut Doni, stabilitas menjadi kunci agar arus modal tidak keluar dari negara berkembang. “Sepanjang stabil, investor asing akan tetap berinvestasi. Tetapi jika terjadi gejolak, mereka akan mencari tempat yang dianggap paling aman,” tegasnya.

