Sektor keuangan Vietnam menghadapi tantangan ganda di tengah berkembangnya keuangan terintegrasi: memperluas pengalaman digital bagi pengguna sekaligus menaikkan standar manajemen risiko dan disiplin keamanan. Tanpa pengendalian yang memadai, ekosistem ini berisiko berubah menjadi siklus pertumbuhan yang terlalu panas dan sulit dikendalikan.
Salah satu daya tarik utama keuangan terintegrasi adalah transaksi yang nyaris tanpa hambatan. Fitur kredit seperti Beli Sekarang–Bayar Nanti (BNPL) dapat disetujui dalam hitungan detik pada tahap pembayaran. Namun, kelancaran ini juga mengubah sifat pengambilan keputusan keuangan, karena proses pinjam-meminjam terjadi langsung di lingkungan belanja yang rentan dipengaruhi emosi.
Dalam model tradisional, jeda waktu antara penilaian hingga pencairan pinjaman memberi ruang bagi calon peminjam untuk mempertimbangkan kemampuan membayar. Ketika jeda tersebut hilang, keputusan berutang menjadi lebih impulsif. Kondisi ini dinilai semakin relevan seiring meluasnya kebiasaan pembayaran nontunai dan melonjaknya transaksi kode QR di sebagian besar populasi dewasa, yang membuat kredit digital berpotensi diadopsi secara masif.
Di sisi lain, ekspansi yang melampaui kemampuan pengelolaan dapat memunculkan risiko utang yang tersebar. Banyak pinjaman kecil dapat menumpuk dan berubah menjadi kewajiban besar. Pada awal 2024, Komite Basel tentang Pengawasan Perbankan memperingatkan bahwa meningkatnya keterlibatan perusahaan teknologi besar (Big Tech) dalam sektor keuangan dapat memicu risiko sistemik jika mekanisme pengawasan tidak tersinkronisasi. Di sejumlah pasar negara maju, tingkat gagal bayar BNPL dilaporkan meningkat seiring melemahnya kondisi ekonomi, sehingga lembaga keuangan terdorong menambah cadangan dan memperketat standar pendanaan.
Lapisan risiko berikutnya berkaitan dengan data. Keuangan terintegrasi berjalan melalui aliran informasi berkelanjutan lewat API terbuka. Dengan portofolio aset digital yang sangat besar—disebut terdiri dari puluhan miliar baris data—serta catatan kredit lebih dari 55 juta pelanggan yang disimpan secara terpusat, sensitivitas sistem menjadi sangat tinggi.
Dr. Le Xuan Nghia menekankan bahwa kebocoran data keuangan bukan hanya menimbulkan kerugian ekonomi, tetapi juga berdampak langsung pada kepercayaan pasar. Ketika distribusi layanan bergeser ke aplikasi super dengan puluhan juta pengguna, risiko sentralisasi platform juga meningkat. Dalam struktur yang saling terhubung dan kompleks, insiden pada satu mitra dapat menyebar ke banyak pihak terkait.
Sejumlah ekonom dan ahli keuangan menilai keuangan terintegrasi memang memperluas peluang akses, namun sekaligus memperumit struktur risiko. Ketika layanan makin “tidak berwujud”, kebutuhan akan manajemen risiko justru harus menjadi lebih nyata dan ketat.
Tekanan keamanan juga terlihat dari maraknya peringatan bank terkait situs web palsu, penipuan deepfake, dan pembajakan akun. Sejumlah bank seperti Vietcombank, BIDV, VietinBank, Techcombank, MB, dan VPBank dilaporkan rutin memperbarui imbauan kepada nasabah. Tren ini mencerminkan meningkatnya ancaman dalam lingkungan keuangan terintegrasi, karena layanan perbankan hadir di berbagai platform konsumen dan setiap koneksi API dapat menjadi titik rawan jika kontrol longgar.
Skala serangan yang menargetkan ekosistem perbankan terbuka dinilai semakin meluas, mendorong sistem pengawasan nasional untuk menerbitkan jutaan peringatan guna mencegah transaksi curang bernilai triliunan dong. Seorang perwakilan bank komersial menyatakan bahwa risiko kini tidak hanya terjadi pada proses login atau transfer uang, tetapi meluas ke eKYC, penautan dompet digital, hingga pembayaran di platform e-commerce. Menurutnya, di mana pun pelanggan bertransaksi, bank tetap memikul tanggung jawab melindungi rekening nasabah.
Dalam Forum Konektivitas Fintech yang digelar pada akhir tahun lalu, Pham Anh Tuan dari Departemen Pembayaran Bank Negara Vietnam menegaskan bahwa berbagi data dalam perbankan terbuka membutuhkan standardisasi yang lebih ketat dan pengendalian risiko pihak ketiga. Ia menilai risiko serangan meningkat seiring bertambahnya tingkat konektivitas.
Sejumlah bank disebut telah beralih ke pemantauan proaktif, termasuk penggunaan AI untuk menganalisis perilaku transaksi secara real-time, pengujian penetrasi berkala pada seluruh koneksi API, serta penerapan otentikasi multi-faktor. Meski demikian, tantangan sumber daya manusia di bidang teknologi dan keuangan masih besar. Jika kapasitas manajemen tidak sejalan dengan ekspansi ekosistem, risiko dapat menumpuk tanpa terlihat.
Selain aspek teknis, banyak modus penipuan juga berangkat dari manipulasi psikologis pengguna. Karena itu, pakar keamanan siber dan perbankan mengingatkan masyarakat untuk tidak membagikan OTP, tidak mengakses tautan mencurigakan, serta memastikan transparansi terkait suku bunga dan penalti—terutama pada produk kredit digital.
Di era keuangan terintegrasi, keamanan siber tidak lagi dipandang sebagai urusan satu bank semata, melainkan fondasi bagi stabilitas ekosistem keuangan digital secara keseluruhan. Semakin terhubung layanan keuangan dengan berbagai platform, semakin ketat disiplin tata kelola yang dibutuhkan. Pertumbuhan dinilai hanya dapat berkelanjutan ketika kepercayaan digital dijaga oleh teknologi, institusi, dan akuntabilitas operasional.

