BERITA TERKINI
Luhut Usulkan Reformasi Pasar Modal Belajar dari India, Potensi Capital Inflow hingga Rp 1.177,8 Triliun

Luhut Usulkan Reformasi Pasar Modal Belajar dari India, Potensi Capital Inflow hingga Rp 1.177,8 Triliun

Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan berencana mengusulkan kepada Presiden Prabowo Subianto agar Indonesia belajar dari India dalam membenahi pasar modal domestik. Menurut Luhut, pengalaman India menunjukkan reformasi dan restrukturisasi pasar modal dapat mendorong masuknya investasi dalam jumlah besar.

Luhut menyebut, jika reformasi pasar modal dilakukan dengan tepat, potensi pemasukan investasi (capital inflow) ke Indonesia bisa mencapai USD 70 miliar atau setara Rp 1.177,8 triliun dengan asumsi kurs Rp 16.826 per dolar AS. Ia menilai, reformasi di India berdampak pada peningkatan capital inflow hingga sembilan kali lipat karena investor menaruh kepercayaan pada transparansi kebijakan pemerintah.

“Kita usulkan, Pak Presiden, di pasar modal kita belajar dari India bagaimana pasar modal di-reform, di-restructuring. Itu mempunyai dampak 9 kali investasi yang masuk ke India,” kata Luhut di Kantor DEN, Jakarta, Jumat (13/2/2026).

Ia menambahkan, arus investasi yang masuk ke India setelah reformasi mencapai sekitar USD 60–70 miliar. Luhut mempertanyakan alasan Indonesia tidak dapat mencapai hasil serupa, seraya menekankan pentingnya reformasi agar pemerintah dinilai lebih transparan dan mampu membangun kepercayaan investor.

Selain mendorong reformasi, Luhut juga menyatakan akan mengusulkan penempatan generasi muda sebagai pejabat di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) maupun Bursa Efek Indonesia (BEI). Menurutnya, pengisian jabatan oleh anak muda yang memiliki pengalaman dan kredibilitas dapat memperkuat integritas lembaga, sekaligus mengurangi potensi intervensi kepentingan tertentu.

“Cari anak muda. Yang paham uang, yang sulit untuk disogok-sogok,” ujar Luhut. Ia menegaskan pejabat di sektor pasar modal perlu memiliki kredibilitas dan tidak mudah diintervensi.

Luhut juga mendorong pemanfaatan teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) di pasar modal. Ia menilai langkah tersebut penting untuk memperkuat kredibilitas pasar modal dan meningkatkan kepercayaan (confidence) investor.

Di sisi lain, OJK menyampaikan tengah berkomunikasi dengan Morgan Stanley Capital International (MSCI) untuk memperbaiki data pasar saham Indonesia. Anggota Dewan Komisioner OJK sekaligus Pengganti Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon, Hasan Fawzi, mengatakan setiap pertemuan teknis dengan MSCI menunjukkan kemajuan.

Hasan menyebut OJK fokus pada penyempurnaan aspek teknis, termasuk peningkatan kualitas dan detail data (granularity) yang ditargetkan rampung pada akhir Februari 2026. Data tersebut direncanakan menjadi dasar simulasi perhitungan indeks oleh MSCI dan penyedia indeks global lainnya.

OJK juga berencana menyampaikan data riil yang bersumber dari partisipan di Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mulai awal Maret 2026. “Per Maret itu bahkan data realnya, data yang sudah merupakan data yang disetorkan oleh para partisipan di KSEI, itulah data yang nanti akan disampaikan ke MSCI untuk dilihat dan dicoba simulasi kalkulasi perhitungan indeksnya,” kata Hasan di BEI, Jakarta, Rabu (11/2/2026).