Di tengah upaya Indonesia mengejar target produksi minyak dan gas (migas) nasional, perhatian kerap tertuju pada eksplorasi dan pembukaan lapangan baru. Namun, terdapat tahapan yang terjadi hampir di semua sumur migas dan berpengaruh besar terhadap kemampuan fluida mengalir ke permukaan, yakni perforasi.
Perforasi adalah proses pembuatan lubang-lubang kecil pada casing sumur agar minyak dan gas dapat mengalir dari reservoir menuju sumur produksi. Lubang tersebut dibuat menggunakan perangkat berisi bahan peledak yang dikenal sebagai shaped charge. Meski berukuran kecil, kualitas lubang yang dihasilkan menjadi faktor penentu apakah sumur dapat berproduksi optimal atau justru mengalami hambatan aliran.
Dalam praktiknya, standar perforasi yang umum digunakan di Indonesia masih banyak mengacu pada metode pengujian lama berbasis target beton. Padahal, kondisi bawah permukaan dinilai jauh lebih kompleks dibandingkan beton. Akibatnya, kinerja shaped charge yang terlihat baik dalam pengujian belum tentu menghasilkan terowongan perforasi yang berkualitas ketika diterapkan di reservoir.
Saat shaped charge diledakkan, energi ledakan membentuk jet berkecepatan tinggi yang menembus baja casing, semen, dan batuan reservoir. Terowongan yang terbentuk menjadi jalur awal aliran minyak dan gas. Jika terowongan ini dangkal, kotor, atau tersumbat serpihan, aliran fluida dapat terhambat dan produksi sumur menurun.
Sejumlah penelitian menunjukkan terowongan perforasi yang panjang, bersih, dan seragam berpotensi meningkatkan produktivitas sumur secara signifikan. Namun, kondisi ideal tersebut dinilai sulit dicapai apabila pemilihan shaped charge hanya didasarkan pada hasil pengujian beton, karena beton tidak merepresentasikan tekanan maupun karakteristik mekanik reservoir.
Untuk memperoleh gambaran performa yang lebih mendekati kondisi lapangan, industri global menggunakan metode pengujian berbasis stressed rock, yaitu batuan yang diberi tekanan menyerupai kondisi reservoir. Metode ini memungkinkan pengukuran kedalaman penetrasi, diameter lubang, serta kemampuan aliran fluida secara lebih realistis.
Meski demikian, pengujian stressed rock disebut belum umum diterapkan di Indonesia, antara lain karena keterbatasan fasilitas maupun standar pengadaan yang belum mengikuti perkembangan teknologi. Kondisi ini membuat pasar domestik masih didominasi shaped charge yang pengujiannya berbasis beton.
Di sisi teknologi, industri global juga mengembangkan reactive liner, yakni varian shaped charge yang dirancang untuk menghasilkan terowongan lebih bersih tanpa prosedur tambahan. Liner reaktif memicu reaksi sekunder yang membantu membersihkan serpihan dan zona rusak di sekitar terowongan, sehingga jalur aliran lebih terbuka.
Dalam uraian tersebut, teknologi reactive liner diklaim memiliki beberapa keunggulan, antara lain peningkatan aliran di laboratorium yang dapat mencapai lebih dari 30% dibandingkan shaped charge konvensional, terowongan yang lebih bersih sehingga hambatan aliran (skin) dapat ditekan dan berpotensi menjadi negatif, serta dapat digunakan pada perforating gun yang sama tanpa modifikasi peralatan. Teknologi ini juga disebut tidak menambah tahapan kerja maupun risiko operasional di rig.
Implikasinya, Indonesia dinilai memiliki peluang meningkatkan produksi migas tanpa harus mengebor sumur baru dengan memperbaiki standar pemilihan shaped charge dan mengadopsi teknologi yang lebih mutakhir. Mengacu pada praktik global, penggunaan pengujian stressed rock dipandang dapat memberikan data performa yang lebih akurat dibandingkan pengujian berbasis beton. Jika perforasi mampu menghasilkan terowongan yang lebih dalam dan bersih, peningkatan aliran sebesar 20–30% disebut bukan hal yang berlebihan.
Dalam skala nasional, peningkatan tersebut diperkirakan dapat berkontribusi pada tambahan produksi hingga jutaan barel per tahun tanpa investasi besar maupun pembangunan infrastruktur baru. Pendekatan ini digambarkan sebagai langkah yang relatif sederhana, cepat, dan berbiaya lebih rendah dalam konteks pencapaian target lifting nasional.
Sejumlah rekomendasi yang disampaikan antara lain mendorong regulator dan operator mempertimbangkan penerapan pengujian berbasis stressed rock dalam pemilihan shaped charge, serta mendorong penyedia jasa perforasi mulai beralih ke teknologi reactive liner yang dinilai telah menunjukkan peningkatan performa. Operator juga disarankan melakukan uji banding atau pengujian independen untuk memastikan kesesuaian dengan karakteristik reservoir, sementara pemerintah dapat mempertimbangkan insentif bagi perusahaan yang mengadopsi standar perforasi modern. Pembaruan standar pengadaan di industri migas disebut sebagai langkah strategis untuk menghindari penggunaan teknologi yang dinilai tidak lagi relevan.