BERITA TERKINI
Menkeu Purbaya: Eskalasi Konflik AS-Israel dan Iran Berisiko Tekan Ekonomi Indonesia

Menkeu Purbaya: Eskalasi Konflik AS-Israel dan Iran Berisiko Tekan Ekonomi Indonesia

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memaparkan sejumlah risiko yang dapat dihadapi perekonomian Indonesia seiring eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran di kawasan Timur Tengah. Salah satu risiko utama berasal dari potensi penutupan Selat Hormuz yang dapat mengganggu suplai energi global dan memicu lonjakan harga komoditas, terutama minyak.

Purbaya menyebut ketidakpastian global tercermin dari meningkatnya sentimen risk off di pasar keuangan internasional. Indikasinya antara lain volatilitas tinggi pada indeks VIX dan MOVE, pergeseran investor ke aset safe haven, penguatan indeks dolar AS (DXY), serta kenaikan imbal hasil (yield) US Treasury tenor 10 tahun. Ia menyampaikan hal itu dalam konferensi pers APBN KITA Edisi Maret di Jakarta, Rabu, 11 Maret 2026.

Dari sisi perdagangan, kenaikan harga minyak berpotensi menambah beban impor migas Indonesia. Kondisi tersebut dinilai dapat menekan surplus neraca perdagangan sekaligus memengaruhi neraca pembayaran.

Di pasar keuangan, meningkatnya ketidakpastian global juga berpeluang memicu arus modal keluar (capital outflow). Dampaknya dapat menekan pasar saham dan obligasi, melemahkan nilai tukar rupiah, serta meningkatkan biaya pendanaan (cost of fund).

Meski demikian, Purbaya menegaskan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akan berperan sebagai shock absorber di tengah potensi peningkatan subsidi energi dan beban bunga utang. Ia juga menyampaikan pemerintah berpeluang memperoleh tambahan penerimaan ketika harga komoditas seperti batu bara, nikel, dan minyak kelapa sawit (CPO) naik.

“Pemerintah juga terus memantau perkembangan ini secara ketat, memastikan instrumen APBN bekerja secara responsif dan menjaga fiskal tetap prudent agar respons kebijakan tetap terukur guna menjaga stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat,” ujar Purbaya.

Sementara itu, Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan eskalasi konflik di Timur Tengah meningkatkan volatilitas harga minyak dunia dalam jangka pendek. Ia menyebut harga minyak Brent sempat menyentuh USD103,74 per barel pada 9 Maret, namun beberapa hari terakhir kembali turun ke kisaran USD87–88 per barel.

Suahasil menambahkan, harga Indonesia Crude Price (ICP) umumnya sekitar USD4 di bawah Brent. Dengan kondisi tersebut, ia memperkirakan ICP berada di kisaran USD84–85 per barel.

Meski sempat mereda, Suahasil mengingatkan harga minyak berpotensi kembali naik ke kisaran USD90–100 per barel apabila gangguan distribusi energi di Selat Hormuz berlanjut. Sebaliknya, harga dapat turun ke sekitar USD70 per barel bila ketegangan geopolitik mereda.

Untuk mengantisipasi risiko tersebut, pemerintah memperkuat strategi ketahanan energi nasional, termasuk menjaga kecukupan cadangan energi dan memastikan kelancaran pasokan energi domestik.