BERITA TERKINI
NEXT Indonesia Center: Indikator OECD Tunjukkan Ekonomi RI Masih di Atas Tren, Tapi Mulai Melambat Tipis

NEXT Indonesia Center: Indikator OECD Tunjukkan Ekonomi RI Masih di Atas Tren, Tapi Mulai Melambat Tipis

Jakarta — Lembaga riset NEXT Indonesia Center menilai momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia masih relatif kuat jika dilihat dari Composite Leading Indicator (CLI) yang dirilis Organization for Economic Co-operation and Development (OECD). Indikator ini digunakan sebagai alat pembacaan arah siklus ekonomi sebelum data Produk Domestik Bruto (PDB) resmi diumumkan.

CLI dirancang sebagai sistem peringatan dini yang mengolah sejumlah komponen, mulai dari pesanan industri hingga kepercayaan konsumen, untuk menangkap potensi titik balik ekonomi. Berdasarkan data terbaru per Maret 2026, CLI Indonesia tercatat berada di level 100,52 atau masih konsisten di atas ambang 100.

Direktur NEXT Indonesia Center Herry Gunawan menjelaskan, posisi CLI di atas 100 mengindikasikan fundamental ekonomi nasional dinilai masih memiliki ruang untuk tumbuh di atas tren jangka panjang, atau tetap terjaga di atas lima persen. Ia juga menyebut posisi Indonesia terlihat lebih kokoh dibandingkan sejumlah ekonomi utama Asia lainnya, termasuk Tiongkok yang disebut terus berada di bawah level 100.

“Data CLI kita memang masih berada di atas level 100, yang artinya secara fundamental ekonomi Indonesia masih memiliki napas untuk tumbuh di atas rata-rata tren jangka panjangnya. Sinyal ini menjadi kompas yang menunjukkan momentum pertumbuhan kita masih di wilayah positif di tengah volatilitas energi dunia,” kata Herry dalam keterangan resmi, Senin, 20 April 2026.

Meski demikian, NEXT Indonesia Center mencatat adanya penurunan tipis CLI Indonesia dari 100,59 pada Februari menjadi 100,52 pada Maret 2026. Penurunan ini dinilai perlu dibaca sebagai sinyal kewaspadaan, meskipun indikator masih berada dalam wilayah ekspansif.

NEXT Indonesia Center menilai moderasi tersebut berpotensi berkaitan dengan mulai munculnya titik jenuh pada mesin utama pertumbuhan ekonomi Indonesia, yakni konsumsi. Struktur ekonomi Indonesia masih sangat bergantung pada konsumsi rumah tangga yang menyumbang 53,9 persen terhadap PDB.

Menurut Herry, pelemahan tipis di awal 2026 dapat mencerminkan kekhawatiran konsumen domestik terhadap potensi inflasi dan lonjakan harga energi dunia. “Kita tidak boleh menutup mata terhadap moderasi yang mulai terjadi di awal 2026. Pelemahan tipis pada Februari dan Maret adalah alarm dini motor utama pertumbuhan kita, yaitu konsumsi rumah tangga, mulai mengalami kelelahan. Jika tidak ada intervensi kebijakan yang adaptif untuk menjaga daya beli, target pertumbuhan bisa meleset,” ujarnya.

NEXT Indonesia Center juga menyebut analisis historis selama 32 tahun terakhir menunjukkan CLI memiliki akurasi tinggi dalam membaca titik balik siklus ekonomi Indonesia, termasuk pada krisis 1998 dan 2008. Dengan mempertimbangkan sinyal moderasi saat ini, lembaga tersebut mendorong pemerintah memperkuat peran investasi dan ekspor yang masing-masing disebut berada di level 28,8 persen dan 22,8 persen dari PDB.

NEXT Indonesia Center berharap sinyal penurunan momentum tersebut dapat menjadi perhatian para pemangku kebijakan. Kebijakan fiskal yang adaptif serta perlindungan daya beli masyarakat bawah dinilai penting agar fase moderasi tidak berkembang menjadi perlambatan yang lebih dalam.