Kinerja ekonomi Indonesia masih mencatatkan tren positif dengan pertumbuhan yang bertahan di kisaran 5% secara beruntun. Namun, di balik angka tersebut, sebagian warga merasakan tekanan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk terpaksa mengandalkan tabungan.
Fikri (29), warga Jakarta yang bekerja sebagai satuan pengaman, mengatakan dalam tiga bulan terakhir ia harus mengambil tabungan untuk menutup pengeluaran harian. “Satu bulan paling enggak Rp 500 ribu sampai Rp 600 ribu (makan tabungan),” ujarnya.
Gambaran serupa tercatat dalam survei Bank Indonesia pada Oktober 2023. Survei itu menunjukkan banyak warga menggunakan tabungan untuk kebutuhan sehari-hari. Dalam temuan tersebut, rasio tabungan terhadap pendapatan dilaporkan turun signifikan dibandingkan periode sebelum pandemi, yang mengindikasikan melemahnya stabilitas keuangan rumah tangga.
Abdi, pegawai swasta, juga merasakan penurunan kemampuan menabung seiring kenaikan pengeluaran. Ia menyebut pengeluaran harian yang semula direncanakan Rp 100 ribu kini meningkat menjadi Rp 150 ribu. “Harga barang pada naik,” katanya.
Direktur Eksekutif Center of Reform Economics (CORE) Mohammad Faisal menilai data tersebut mengindikasikan masyarakat terpaksa menggunakan tabungan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Ia juga menyebut adanya dugaan penurunan pendapatan yang mendorong warga mengakses tabungan.
Sementara itu, ekonom senior Chatib Basri mengaitkan fenomena ini dengan inflasi yang terjaga, namun tetap berpengaruh pada daya beli. “Kita akan berhadapan dengan purchasing power mulai melemah terutama di kuartal II, III, dan IV,” ujarnya.