BERITA TERKINI
Nilai Transaksi Saham di Sumut Tembus Rp25,98 Triliun hingga Januari 2026

Nilai Transaksi Saham di Sumut Tembus Rp25,98 Triliun hingga Januari 2026

Aktivitas pasar modal di Sumatera Utara (Sumut) meningkat pada awal 2026. Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat nilai transaksi saham di wilayah ini mencapai Rp25,98 triliun hingga Januari 2026.

Nilai tersebut naik 159,6 persen dibandingkan periode yang sama pada Januari 2025 yang sekitar Rp10 triliun. Kepala Kantor Perwakilan BEI Sumut, M. Pintor Nasution, menyebut kenaikan itu mencerminkan tingginya aktivitas transaksi investor selama setahun terakhir.

Pintor mengatakan, sepanjang 2025 kinerja investasi saham cenderung positif sehingga lebih banyak investor yang memperoleh keuntungan dibandingkan yang mengalami kerugian. Selain peningkatan nilai transaksi, BEI Sumut juga mencatat perubahan komposisi investor.

Menurut Pintor, investor kini didominasi kalangan generasi muda atau Gen Z berusia di bawah 30 tahun dengan porsi sekitar 30 persen dari total investor. Ia menyebut minat generasi muda dipengaruhi kemudahan akses informasi melalui media sosial serta mulai masuknya materi industri keuangan dalam kurikulum pendidikan di tingkat SMA dan SMK.

Ia juga menyampaikan bahwa investor domestik semakin mendominasi aktivitas pasar modal di Sumut sehingga tidak lagi terlalu bergantung pada pergerakan investor asing. Meski demikian, dari sisi nilai aset, investor berusia 40 tahun ke atas masih memegang porsi terbesar karena memiliki kemampuan finansial yang lebih kuat.

Berdasarkan data BEI Sumut, jumlah investor pasar modal di provinsi ini hingga Januari 2026 mencapai sekitar 1,4 juta Single Investor Identification (SID). Dari jumlah tersebut, sebanyak 401.723 SID merupakan investor saham.

Dari sisi sebaran, investor masih didominasi wilayah perkotaan. Lima daerah dengan jumlah investor terbesar di Sumut adalah Kota Medan dengan kontribusi 41 persen, disusul Deli Serdang, Simalungun, Pematang Siantar, dan Langkat.

BEI Sumut juga mencatat Sumut sebagai provinsi dengan pertumbuhan pasar modal tertinggi di luar Pulau Jawa. Untuk mendorong pemerataan investor, BEI Sumut menetapkan peningkatan literasi keuangan sebagai fokus program pada 2026, termasuk memperluas edukasi pasar modal ke daerah seperti Nias dan Mandailing Natal.

Dalam upaya tersebut, BEI Sumut akan melanjutkan kerja sama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPKAD), serta menambah Galeri Investasi yang saat ini berjumlah 26 titik.

Di sisi lain, BEI Sumut menargetkan pelaksanaan 24 kegiatan sosialisasi sepanjang 2026 untuk mendorong lahirnya perusahaan baru yang melantai di bursa. Sebanyak 12 perusahaan juga disiapkan mengikuti coaching clinic penawaran saham perdana atau IPO pada Mei mendatang.

Pintor berharap investasi pasar modal dapat menjadi bagian dari perencanaan keuangan masyarakat di Sumut. Ia menekankan harapan agar investasi tidak hanya menjadi tren, melainkan menjadi budaya dalam pengelolaan keuangan keluarga.