Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) merevisi turun proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk 2026 dan 2027 di tengah meningkatnya risiko global, terutama terkait konflik geopolitik di Timur Tengah yang memicu lonjakan harga energi.
Dalam laporan OECD Economic Outlook Testing Resilience edisi Maret 2026, OECD memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia melambat menjadi 4,8% pada 2026 dan berada di 5% pada 2027. Angka ini lebih rendah dibandingkan proyeksi OECD pada Desember 2025 yang menempatkan pertumbuhan Indonesia sebesar 5% pada 2026 dan 5,1% pada 2027.
Proyeksi OECD untuk 2026 juga berada di bawah target pertumbuhan ekonomi dalam APBN 2026 yang dipatok sebesar 5,4%.
OECD menilai penurunan proyeksi ini berkaitan dengan memburuknya kondisi global. Konflik di Timur Tengah disebut telah mengerek harga energi dan mengganggu pasokan global. Kenaikan harga energi dinilai meningkatkan biaya produksi, mendorong inflasi, dan pada akhirnya menekan permintaan serta daya beli masyarakat. OECD menegaskan, bila tekanan tersebut berlanjut, dampaknya dapat negatif terhadap permintaan dan pertumbuhan ekonomi.
Bagi Indonesia, risiko itu dinilai lebih terasa karena ketergantungan pada impor energi. Kenaikan harga energi global berpotensi menekan daya beli masyarakat sekaligus margin pelaku usaha.
Di tingkat global, OECD memproyeksikan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) dunia melambat menjadi 2,9% pada 2026, sebelum sedikit meningkat menjadi 3,0% pada 2027.
Selain pertumbuhan, OECD juga merevisi naik proyeksi inflasi Indonesia. Inflasi pada 2026 diperkirakan mencapai 3,4%, lebih tinggi dibandingkan proyeksi sebelumnya sebesar 3,1%.
OECD turut menyoroti kondisi keuangan global yang semakin ketat sebagai tantangan tambahan. Volatilitas pasar keuangan disebut meningkat dan biaya pendanaan cenderung naik, yang dapat menahan ekspansi investasi.
Meski demikian, OECD menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia relatif tetap terjaga. Kebijakan fiskal dan konsumsi domestik dinilai menjadi penopang utama stabilitas ekonomi di tengah tekanan global. OECD menyebut stimulus fiskal yang baru-baru ini diberikan mendukung pertumbuhan konsumsi swasta.