BERITA TERKINI
OJK Dorong UMKM Manfaatkan Skema Pembiayaan Beragam lewat Sinergi BPR, Koperasi, dan Securities Crowdfunding

OJK Dorong UMKM Manfaatkan Skema Pembiayaan Beragam lewat Sinergi BPR, Koperasi, dan Securities Crowdfunding

Pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dinilai memerlukan pendekatan ekosistem keuangan yang terintegrasi, tidak hanya mengandalkan satu sumber pembiayaan. Salah satu model yang disorot adalah sinergi antara Bank Perkreditan Rakyat (BPR), koperasi, dan securities crowdfunding (SCF) untuk mendorong UMKM naik kelas secara bertahap dan berkelanjutan.

Gagasan tersebut mengemuka dalam seminar bertema ekosistem keuangan terintegrasi bagi UMKM yang digelar di Kota Tangerang, Banten, Rabu (11/2/2026). Sejumlah pembicara hadir, antara lain Ednaz Hermawan dari Direktorat Pengembangan UMKM dan Keuangan Syariah Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Managing Director Tri Capital Investama (TC Invest) Agus Jamiatul Firdaus yang mewakili manajemen BPR TCI Sumbar, Direktur Utama FundEx Farid Nugraha, Operational Director TC Invest M Dedi Gunawan, serta Ketua Koperasi TC Invest Dr Iqbal Alan Abdullah.

Dalam pemaparannya, Ednaz Hermawan menyampaikan bahwa secara regulasi dan kebijakan, ruang pembiayaan untuk UMKM terbuka lebar. OJK bersama Bank Indonesia telah menerbitkan berbagai aturan dan skema untuk mendorong peningkatan pembiayaan sektor tersebut.

Ia juga menyoroti besarnya peran UMKM di Indonesia yang disebut mencapai sekitar 58 juta unit usaha atau 98 persen dari total pelaku usaha. Berbagai program pembiayaan pun telah digulirkan, mulai dari Kredit Usaha Rakyat (KUR), kredit industri padat karya, hingga skema lainnya.

Meski demikian, Ednaz menilai tantangan tidak hanya terletak pada ketersediaan dana, tetapi juga pada literasi dan inklusi keuangan. Menurutnya, pemahaman pelaku usaha terhadap produk dan skema pembiayaan menjadi faktor penting agar akses yang tersedia dapat dimanfaatkan secara optimal.

Ketua Koperasi TC Invest, Iqbal Alan Abdullah, menambahkan bahwa UMKM kerap menghadapi kendala dalam mengakses pembiayaan terjangkau, terutama terkait administrasi, jaminan, dan kapasitas manajerial. Karena itu, ia menilai diperlukan ekosistem yang dapat melayani kebutuhan UMKM secara bertahap seiring pertumbuhan usaha.

Model yang dipaparkan dimulai dari pembinaan usaha ultra mikro melalui koperasi. Ketika skala usaha meningkat, pelaku UMKM didorong mengakses pembiayaan melalui BPR. Pada tahap berikutnya, ketika usaha dinilai semakin matang, pelaku usaha dapat memanfaatkan skema securities crowdfunding untuk ekspansi yang lebih luas.

Operational Director TC Invest, M Dedi Gunawan, menjelaskan bahwa kolaborasi tersebut dibangun di atas tiga pilar utama, yakni koperasi sebagai community-based finance, BPR sebagai lembaga perbankan mikro formal, dan SCF sebagai akses pasar modal digital.