BERITA TERKINI
Fundamental Makro Dinilai Masih Menopang Pasar Saham di Tengah Gejolak Minyak dan Sentimen Global

Fundamental Makro Dinilai Masih Menopang Pasar Saham di Tengah Gejolak Minyak dan Sentimen Global

Gejolak di Timur Tengah yang diikuti kenaikan harga minyak sempat memicu kepanikan dan menyeret pasar saham turun tajam. Namun, Direktur Pusat Analisis SSI Securities Corporation, Pham Luu Hung, menilai reaksi pasar tersebut berlebihan karena banyak saham dijual meski tidak terdampak pada kegiatan bisnis inti.

Untuk mengukur risikonya, Hung merujuk pada laporan strategis SSI Research edisi Maret berjudul “Marching Ahead”. Dalam skenario dasar, jika harga minyak bertahan di sekitar US$90 per barel selama dua bulan ke depan, kenaikan indeks harga konsumen (CPI) diperkirakan hanya sekitar 0,62%. Dengan asumsi itu, inflasi tahunan berada di kisaran 4,12% dan dinilai masih dalam batas aman yang dapat dikendalikan pemerintah.

Risiko baru dianggap meningkat pada skenario terburuk, yakni ketika harga minyak mentah Brent mencapai US$100 per barel dan bertahan tinggi selama empat bulan (Maret hingga Juni). Pada kondisi tersebut, CPI diperkirakan berpotensi melampaui rentang 4–4,5% dan dapat mencapai 5,06%.

Berdasarkan perhitungan itu, Hung menekankan bahwa fluktuasi pasar dalam beberapa sesi yang dipicu faktor psikologis tidak cukup menjadi alasan untuk panik. Ia menilai penurunan tajam justru dapat membuka peluang beli yang jarang muncul.

Ruang kebijakan: fiskal disebut menjadi “perisai”

Dari sisi kebijakan makro, Hung memperkirakan Federal Reserve AS (The Fed) berpotensi menunda pemangkasan suku bunga akibat fluktuasi harga minyak. Situasi tersebut dapat menambah tekanan pada nilai tukar dan pasar negara berkembang, termasuk Vietnam. Meski demikian, ia menilai Bank Negara Vietnam belum perlu melonggarkan kebijakan moneter lebih jauh pada awal kuartal pertama.

Menurut Hung, ruang gerak kebijakan lebih banyak bergantung pada instrumen fiskal sebagai “perisai”. Ia mencontohkan opsi pengurangan pajak perlindungan lingkungan untuk bensin dan solar menjadi 0%, serta penyesuaian fleksibel oleh Kementerian Perindustrian dan Perdagangan terkait ketentuan penggunaan Dana Stabilisasi Harga ketika harga bensin dan solar berfluktuasi lebih dari 20% per bulan.

Pendorong pertumbuhan dinilai masih berjalan

Dari kondisi domestik, Hung menilai mesin pertumbuhan ekonomi Vietnam masih bekerja sesuai ekspektasi. Target pertumbuhan sekitar 8% pada kuartal pertama dipandang wajar dalam konteks saat ini dan dapat menjadi pijakan untuk percepatan bertahap pada kuartal berikutnya.

SSI Research juga menyoroti defisit perdagangan yang berkelanjutan—dengan peningkatan hampir 30% dalam dua bulan pertama tahun ini—sebagai sinyal positif. Lebih dari 90% impor disebut berupa input persiapan seperti komponen elektronik, chip, dan barang kebutuhan pokok yang mendukung aktivitas pengolahan, perakitan, dan ekspor pada kuartal kedua dan ketiga 2026. Karena aktivitas tersebut banyak dikuasai perusahaan FDI, tekanan terhadap nilai tukar dinilai dapat diabaikan.

Selain itu, ekspektasi percepatan pencairan investasi publik pada Maret—untuk menyerap dana yang dibawa dari 2025—dipandang berpotensi menjadi tambahan dorongan bagi perekonomian.

Peringatan soal “tren turun” dan distorsi indikator teknikal

Di pasar keuangan, Strategist Investasi di SSI Research Investment Consulting and Analysis Center, Ho Huu Tuan Hieu, menilai penggunaan indikator analisis teknikal seperti garis MA yang ditembus atau garis tren jangka panjang untuk mengonfirmasi “tren turun” dapat terdistorsi pada periode ketika informasi berubah mendadak.

Ia merujuk pelajaran historis dari aksi jual akibat ketegangan tarif pada 2025 maupun guncangan Covid-19 pada Maret 2020. Menurutnya, pasar pernah menembus berbagai level penopang, namun kemudian pulih cepat dan membentuk tren naik baru setelah distorsi informasi mereda.

Sektor yang dinilai menyimpan peluang

Dari perspektif Hung, peluang investasi terbuka di sejumlah sektor. Untuk perbankan, ia menyebut investor masih memprioritaskan saham seperti CTG, MBB, Vietcombank, VPBank, dan HDBank. SSI Research menilai bank-bank tersebut diuntungkan oleh batas kredit yang tinggi karena perannya dalam mendukung sistem perbankan yang lemah, serta memiliki valuasi P/B yang menarik; salah satu contohnya, P/B VPBank untuk 2026 disebut sekitar 1.

Di sektor sekuritas dan teknologi, kabar peningkatan peringkat pasar dinilai menjadi katalis utama. Perusahaan sekuritas besar dan saham teknologi seperti FPT disebut menarik arus modal jangka pendek menjelang pengumuman peringkat FTSE pada 8 April.

Untuk ritel dan barang konsumsi, Hung mencatat pertumbuhan konsumsi pada dua bulan pertama tahun ini relatif lambat, hanya sekitar 4,5% setelah mengecualikan inflasi. Meski begitu, pemulihan yang lebih nyata diperkirakan terjadi pada paruh kedua tahun ini. Ia menilai dukungan kebijakan seperti pelonggaran tenor pinjaman konsumsi dari satu tahun menjadi dua tahun, serta upaya menjaga harga bahan bakar, dapat menjadi landasan bagi ritel modern dan barang konsumsi esensial. Dalam konteks ini, saham seperti Vinamilk, Masan, dan Mobile World masuk dalam daftar rekomendasi SSI Research.

Di sektor real estat, Hung menilai sejumlah saham—dengan perwakilan seperti Khang Dien dan Nam Long—mengalami penurunan valuasi tajam hingga mendekati titik terendah historis pada era Covid. Namun ia menyarankan investor memantau dan menunggu sinyal pemulihan yang lebih jelas mulai kuartal kedua dan seterusnya.

Sementara untuk minyak dan gas, meski prospek harga rata-rata 2026 disebut lebih tinggi dibanding 2025 seiring reformasi perencanaan energi, Hung mengingatkan bahwa mengejar kenaikan harga berdasarkan informasi konflik jangka pendek berisiko tinggi.

Utang margin: dinilai mekanis seiring pasar membesar

Setiap kali pasar bergejolak, isu “utang margin mencapai rekor tertinggi” kerap memicu kekhawatiran. Menanggapi hal itu, Hieu—yang pernah menangani pinjaman margin untuk institusi—menyebut kenaikan margin ke rekor baru sebagai pergerakan mekanis yang positif seiring ekspansi kapitalisasi pasar, likuiditas, dan jumlah rekening, bukan semata risiko. Ia juga menilai porsi pinjaman margin untuk klien institusional besar saat ini tidak setinggi periode 2019–2021.

Hung menambahkan bahwa peningkatan alokasi margin kepada banyak investor ritel dengan nilai pinjaman kecil dinilai positif karena membantu sekuritas mengoptimalkan diversifikasi risiko dan membuat tekanan likuidasi margin (call margin) menjadi kurang ekstrem dibanding sebelumnya.

Di luar pemilihan saham, para ahli menekankan pentingnya pelatihan keterampilan manajemen risiko bagi investor. Mereka menilai disiplin dan pandangan makro yang jernih menjadi “perisai” utama agar aset investor dapat bertumbuh secara berkelanjutan melewati berbagai siklus volatilitas pasar.