Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan indeks literasi keuangan pelajar dan mahasiswa masih berada di angka 56,42%. Kondisi ini menjadi perhatian karena generasi muda kini tumbuh di tengah ekosistem keuangan digital yang semakin kompleks, dengan akses layanan keuangan yang kian mudah, termasuk dompet digital.
Kemudahan tersebut dinilai dapat memunculkan risiko apabila tidak diimbangi pemahaman yang memadai. Untuk merespons situasi itu, PT FWD Insurance Indonesia (FWD Insurance) bersama Prestasi Junior Indonesia (PJI) menghadirkan program JA SparktheDream tahun keempat, dengan pendekatan yang menempatkan keluarga, sekolah, dan pelaku usaha jasa keuangan sebagai ekosistem pembelajaran yang saling terhubung.
Program JA SparktheDream memberikan edukasi literasi keuangan secara holistik melalui empat sesi pembelajaran di kelas dengan metode interaktif. Pembelajaran memadukan sesi kelas, platform pembelajaran daring, serta aktivitas rumah bersama keluarga sebagai bagian dari proses belajar.
Melalui aktivitas rumah, siswa didorong mempraktikkan pembelajaran keuangan lewat diskusi keluarga, pencatatan sederhana pengeluaran, serta pengambilan keputusan finansial sehari-hari dengan pendampingan orang tua. Pendekatan ini ditujukan agar literasi keuangan tidak berhenti pada teori, melainkan menjadi kebiasaan dalam keseharian anak.
Chief Human Resources & Marketing Officer FWD Insurance, Rudy F. Manik, mengatakan anak-anak semakin cepat terpapar berbagai pilihan finansial beserta risiko yang menyertainya di era digital. Ia menyebut program tersebut telah menjangkau hampir 6.000 siswa sejak 2023 dan kini diupayakan semakin relevan dengan realita yang dihadapi anak-anak, sekaligus melibatkan orang tua dan sekolah sebagai satu ekosistem pembelajaran.

