BERITA TERKINI
OJK Jabar Nilai Ekonomi dan Sektor Keuangan Jawa Barat Masih Solid di Tengah Gejolak Global

OJK Jabar Nilai Ekonomi dan Sektor Keuangan Jawa Barat Masih Solid di Tengah Gejolak Global

BANDUNG – Otoritas Jasa Keuangan Jawa Barat (OJK Jabar) menilai stabilitas sektor keuangan dan pertumbuhan ekonomi di Jawa Barat masih berada dalam kondisi solid di tengah dinamika geopolitik global. Hingga awal 2026, OJK menyebut belum terlihat dampak signifikan terhadap kinerja perbankan maupun aktivitas ekonomi di wilayah tersebut.

Kepala OJK Jabar Darwisman mengatakan indikator makroekonomi daerah masih menunjukkan tren positif. Aktivitas ekonomi masyarakat dinilai terus tumbuh dengan dukungan stabilitas sektor keuangan yang tetap terjaga.

“Kalau kami lihat, aktivitas ekonomi masih tumbuh positif dan sektor perbankan juga masih menunjukkan kinerja yang solid,” ujar Darwisman dalam keterangannya, Rabu (01/04/2026).

Ia menjelaskan, salah satu indikator yang mencerminkan kondisi tersebut adalah pertumbuhan kredit perbankan nasional yang masih berada di kisaran 9 persen. Selain itu, aset perbankan juga terus meningkat, yang disebut menjadi penanda kepercayaan masyarakat terhadap sektor keuangan tetap kuat.

Menurut Darwisman, kondisi ini menjadi sinyal bahwa sistem keuangan Indonesia, termasuk di Jawa Barat, masih kondusif untuk mendukung pertumbuhan ekonomi sepanjang 2026. Meski demikian, OJK Jabar menyatakan tetap melakukan pemantauan dan analisis terhadap potensi dampak lanjutan dari eskalasi geopolitik global, termasuk kemungkinan pengaruhnya terhadap arus investasi dan kinerja ekspor daerah.

“Kami masih terus melakukan kajian, terutama untuk melihat apakah ada dampak terhadap investasi dan ekspor Jawa Barat. Namun sampai saat ini, belum terlihat adanya tekanan signifikan,” katanya.

Darwisman juga menyoroti kondisi distribusi energi, khususnya bahan bakar minyak (BBM), yang dinilai masih terkendali. Ia menyebut tidak adanya antrean panjang di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) sebagai indikator pasokan BBM masih aman.

“Kita lihat di lapangan, tidak ada antrean panjang di SPBU. Ini menunjukkan bahwa distribusi BBM masih berjalan dengan baik,” ujarnya.

Ia menambahkan, struktur impor energi Indonesia yang tidak bergantung pada jalur rawan konflik turut menopang stabilitas. Sebagian besar impor BBM disebut berasal dari negara yang tidak melewati jalur strategis seperti Selat Hormuz, sehingga risiko gangguan pasokan relatif lebih kecil.

Di tengah situasi yang dinilai stabil, Darwisman mengingatkan masih ada tantangan struktural di Jawa Barat yang perlu mendapat perhatian serius, terutama kemiskinan dan pengangguran. Ia menyebut angka kemiskinan masih mencapai 3,55 juta jiwa atau sekitar 6,78 persen per 2025.

Jumlah penduduk miskin tercatat turun sekitar 120 ribu jiwa dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, Darwisman menilai laju penurunan tersebut masih lambat apabila tidak diiringi langkah akseleratif.

“Kalau penurunannya hanya sekitar 120 ribu per tahun, maka butuh waktu cukup panjang untuk menekan angka kemiskinan secara signifikan,” kata Darwisman.

Ia juga menyampaikan tingkat pengangguran terbuka masih berada di angka 6,66 persen atau sekitar 1,77 juta orang. Meski mengalami penurunan tipis, ia menilai diperlukan strategi yang lebih komprehensif untuk mempercepat penciptaan lapangan kerja.

Di sisi lain, pemerintah daerah disebut terus menggulirkan berbagai program perlindungan sosial, termasuk bantuan sosial dan beasiswa pendidikan. Pada 2024, tercatat 15,38 juta keluarga penerima manfaat telah mendapatkan bantuan dengan total anggaran mencapai Rp9,23 triliun.

Darwisman turut mengingatkan risiko bencana alam seperti banjir dan longsor yang dapat memengaruhi pembangunan dan kesejahteraan masyarakat di Jawa Barat. Dengan berbagai dinamika tersebut, OJK menegaskan komitmennya untuk terus memantau perkembangan ekonomi dan menjaga stabilitas sistem keuangan, serta memberikan pembaruan informasi kepada publik seiring perkembangan situasi.

“Sejauh ini, kondisi ekonomi dan sistem keuangan masih solid. Ini menjadi modal penting untuk menjaga pertumbuhan ekonomi Jawa Barat tetap positif ke depan,” pungkasnya.