AMBON — Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Maluku, Andi Muhamad Yusuf, menyampaikan bahwa kondisi industri jasa keuangan di Maluku masih menunjukkan kinerja yang positif meski pertumbuhan ekonomi daerah pada 2025 tercatat sedikit melambat dibandingkan rata-rata nasional.
Menurut Andi, sektor jasa keuangan tetap menjadi salah satu penopang penting bagi pertumbuhan ekonomi daerah. Peran tersebut, antara lain, melalui penguatan kredit produktif, peningkatan literasi keuangan, serta pengembangan keuangan syariah.
“Sebagai otoritas di sektor jasa keuangan, kami terus mendorong agar industri keuangan berkontribusi terhadap pencapaian target pembangunan ekonomi daerah, terutama melalui penyaluran kredit ke sektor produktif dan UMKM,” ujar Andi saat memaparkan kondisi terkini industri jasa keuangan pada kegiatan OJK Maluku Bastori sekaligus Buka Puasa Bersama Insam Media di Ambon, Rabu (11/3/2026).
Andi menjelaskan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik, pertumbuhan ekonomi Maluku pada 2025 mencapai 4,56 persen. Angka ini berada di bawah rata-rata nasional yang mencapai 5,1 persen.
Ia menyebut pertumbuhan ekonomi Maluku terutama ditopang oleh sejumlah sektor utama, seperti perikanan, perdagangan, dan industri pengolahan. Namun, ia mengakui adanya perlambatan yang dipengaruhi beberapa faktor, termasuk struktur ekonomi Maluku yang masih bertumpu pada sektor hulu dan sumber daya alam.
“Selain itu, penyesuaian belanja pemerintah daerah juga berpengaruh terhadap dinamika pertumbuhan ekonomi,” katanya.
Dari sisi stabilitas harga, Andi mengatakan inflasi di Maluku masih relatif terkendali di kisaran 3,5 persen, meski sedikit di atas target nasional 2,5 ± 1 persen.
OJK juga menyoroti tantangan sosial ekonomi di Maluku, khususnya tingkat kemiskinan yang masih relatif tinggi dibandingkan rata-rata nasional. Andi menyatakan, meski tren kemiskinan menunjukkan penurunan, indeks kedalaman kemiskinan masih menjadi perhatian pemerintah dan pemangku kepentingan.
“Pertumbuhan ekonomi harus berkualitas sehingga mampu menekan kemiskinan. Di sinilah sektor jasa keuangan perlu hadir sebagai solusi,” ujarnya.

