BERITA TERKINI
OJK Minta LKM Perkuat Modal untuk Hadapi Tantangan Permodalan

OJK Minta LKM Perkuat Modal untuk Hadapi Tantangan Permodalan

Asosiasi Lembaga Keuangan Mikro (LKM) dan Lembaga Keuangan Mikro Syariah (LKMS) Indonesia (Aslindo) menyampaikan bahwa sulitnya mendapatkan permodalan menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi industri saat ini.

Menanggapi hal tersebut, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meminta LKM melakukan sejumlah langkah untuk mengatasi hambatan permodalan. Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK, Agusman, mengatakan LKM dapat memperkuat struktur permodalan sesuai ketentuan.

Menurut Agusman, penguatan tersebut dapat dilakukan melalui peningkatan setoran modal, optimalisasi kinerja usaha, serta penjajakan kerja sama pendanaan yang dilakukan secara prudent. Ia menekankan agar upaya itu tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian dan keberlanjutan usaha. Pernyataan tersebut disampaikan dalam lembar jawaban tertulis RDK OJK, Kamis (5/3/2026).

Di sisi lain, Aslindo menilai tantangan permodalan berpotensi memengaruhi kinerja penyaluran pembiayaan industri. Ketua Umum Aslindo, Burhan, juga mengingatkan adanya sejumlah faktor yang perlu diwaspadai pada 2026, antara lain risiko terjadinya fraud dan lemahnya pengawasan internal.

Selain itu, Burhan menyoroti pentingnya kewaspadaan terhadap tata kelola dan kompetensi sumber daya manusia yang lemah. Ia menekankan setiap LKM perlu membaca tantangan, ancaman, dan kendala di wilayah masing-masing. Burhan juga menyampaikan Aslindo aktif menyampaikan informasi yang dibutuhkan LKM dan LKMS untuk penguatan bisnis.

Terkait kinerja industri, OJK mencatat penyaluran pinjaman LKM per Januari 2026 mencapai Rp 0,98 triliun atau Rp 980 miliar. Nilai tersebut tumbuh 2,08% dibandingkan posisi akhir 2025 yang sebesar Rp 960 miliar.

OJK juga mencatat nilai aset LKM per Januari 2026 mencapai Rp 1,63 triliun. Sejalan dengan kinerja pinjaman, aset LKM tercatat tumbuh 3,16% dibandingkan posisi per Desember 2025 yang sebesar Rp 1,58 triliun.