Ketidakpastian ekonomi akibat inflasi, dinamika geopolitik, dan perubahan kebijakan dapat berdampak langsung pada pengeluaran rumah tangga. Inflasi, misalnya, kerap memicu kenaikan harga barang dan jasa, termasuk kebutuhan pokok seperti bahan makanan yang menjadi komponen utama belanja keluarga. Dalam penelitian yang dimuat di “Journal of Economic Perspectives”, Campbell dan Mankiw (1989) menyebutkan inflasi tinggi mendorong keluarga menyesuaikan anggaran, antara lain dengan mengurangi konsumsi atau beralih ke alternatif yang lebih murah, yang pada akhirnya dapat memengaruhi kualitas makanan.
Di sisi lain, ketidakpastian geopolitik berpotensi mengganggu rantai pasokan global sehingga memicu kelangkaan produk tertentu dan kenaikan harga, sebagaimana diuraikan Lee dan Ratti (2019) dalam “Global Economic Review”. Perubahan kebijakan ekonomi—seperti penyesuaian subsidi atau pajak—juga dapat memengaruhi daya beli secara langsung, mengubah pola konsumsi, dan berdampak pada kesejahteraan keluarga. Dalam situasi yang berubah cepat ini, keluarga dituntut beradaptasi agar kebutuhan dasar tetap terpenuhi.
Dalam konteks menjaga nilai aset dan ketahanan finansial, emas kerap dipandang sebagai salah satu instrumen investasi yang digunakan sebagai pelindung nilai. Riset World Gold Council menyebut emas cenderung mempertahankan nilai atau menguat ketika pasar saham bergejolak. Selain itu, emas dinilai likuid karena relatif mudah diperjualbelikan, sehingga memberi fleksibilitas ketika keluarga membutuhkan dana cepat. Studi Wang dkk. (2011) juga menunjukkan harga emas sering bergerak berlawanan dengan nilai mata uang fiat, yang membuatnya kerap diposisikan sebagai lindung nilai terhadap inflasi.
Data harga emas Antam pada Selasa (10/2/2026) pagi tercatat berada di level Rp 2.940.000 per gram (Kompas, 2026). Pada periode yang sama, nilai tukar rupiah disebut berada di kisaran Rp15.850–Rp15.950 per dolar AS. Dalam pemberitaan tersebut, ketahanan harga emas di tengah kondisi pasar yang fluktuatif dipandang mencerminkan permintaan terhadap aset yang dianggap “safe haven” di tengah bayang-bayang inflasi dan ketidakpastian geopolitik.
Selain emas, tanah sering dipandang sebagai aset berwujud yang berpotensi memberikan apresiasi nilai jangka panjang, terutama di wilayah yang mengalami urbanisasi. Tanah juga dapat dikembangkan untuk menghasilkan pendapatan pasif melalui sewa. Sejumlah kajian yang dirujuk dalam “Journal of Real Estate Research” menekankan optimalisasi penggunaan lahan—baik untuk sektor komersial maupun residensial—dapat meningkatkan imbal hasil total investasi, tidak hanya dari kenaikan harga (capital gain) tetapi juga dari pendapatan sewa yang membantu menjaga stabilitas arus kas.
Meski demikian, investasi tanah memiliki keterbatasan, terutama dari sisi likuiditas. Proses penjualan tanah dapat memakan waktu dan sangat bergantung pada kondisi pasar lokal, sehingga dana tidak selalu cepat dicairkan. Risiko lain yang disebut mencakup perubahan regulasi dan aturan zonasi yang dapat memengaruhi nilai serta pemanfaatan lahan.
Ketika menimbang emas dan tanah, keluarga perlu menyesuaikannya dengan tujuan investasi. Emas dapat lebih relevan bagi yang memprioritaskan likuiditas dan perlindungan terhadap inflasi. Sementara itu, tanah dapat menjadi pilihan bagi keluarga yang mengejar potensi apresiasi jangka panjang dan pendapatan pasif. Faktor emosional dan budaya juga disebut berpengaruh dalam keputusan: emas kerap diasosiasikan dengan kemakmuran dan rasa aman, sedangkan tanah sering dipandang sebagai simbol stabilitas dan warisan.
Dalam situasi ekonomi yang tidak menentu, diversifikasi menjadi salah satu strategi yang kerap disarankan. Menggabungkan emas dan tanah dapat membantu menyeimbangkan kebutuhan likuiditas dan peluang pertumbuhan nilai aset, sejalan dengan gagasan diversifikasi portofolio yang dirujuk Markowitz (1952).
Pada akhirnya, tidak ada satu jawaban tunggal mengenai instrumen investasi terbaik untuk semua keluarga. Evaluasi kondisi keuangan, toleransi risiko, dan tujuan jangka panjang diperlukan sebelum mengambil keputusan. Konsultasi dengan penasihat keuangan juga dapat membantu menyusun portofolio yang lebih seimbang, sambil tetap mengikuti perkembangan ekonomi global dan tren pasar agar strategi investasi dapat disesuaikan dengan perubahan situasi.

