Pasar aset kripto mengawali pekan ini dengan koreksi setelah mengalami volatilitas tinggi pada akhir pekan lalu. Sebelumnya, eskalasi ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat memicu aksi pembelian reaktif yang mendorong harga Bitcoin (BTC) menyentuh area resistensi jangka pendek di kisaran US$71.000 hingga US$72.000.
Namun, sentimen pasar kini mulai bergeser. Pelaku pasar terpantau melakukan aksi ambil untung (profit taking) seiring peristiwa geopolitik tersebut dinilai sudah tercermin dalam harga. Fokus pasar pun kembali mengarah pada prospek fundamental serta kondisi likuiditas makroekonomi jangka menengah.
Berdasarkan data perdagangan terbaru, Bitcoin diperdagangkan di level US$66.486,55. Secara harian, BTC melemah 1,05%, sementara secara mingguan bergerak relatif stagnan dengan kenaikan tipis 0,18%.
Penurunan dari puncak sekitar US$72.000 ke area US$66.400 disebut sebagai penyesuaian yang wajar setelah target relief rally atau pantulan sementara tercapai.
Ethereum (ETH) juga bergerak terbatas. ETH berada di level US$1.956,93, turun 0,32% dalam 24 jam terakhir dan nyaris tidak berubah secara mingguan dengan kenaikan 0,04%.
Bertahannya dua aset kripto utama pada kisaran tersebut mengindikasikan tekanan jual pascakenaikan belum sepenuhnya menguasai pasar, tetapi momentum pembelian dorongan juga mulai mereda.
Di sektor altcoin, mayoritas aset berkapitalisasi besar tercatat terkoreksi moderat. Binance Coin (BNB) turun 0,27% ke US$616,40 dan Solana (SOL) melemah 0,50% ke US$82,29.
Koreksi lebih dalam secara mingguan terjadi pada Cardano (ADA) yang turun 9,52% dan diperdagangkan di US$0,2501. Sementara itu, TRON (TRX) dan UNUS SED LEO (LEO) bergerak lebih stabil. TRX mencatat kenaikan mingguan 2,67% dan LEO naik 0,97% dalam 24 jam terakhir.
Variasi kinerja tersebut dinilai menunjukkan bahwa tanpa masuknya likuiditas baru, rotasi modal di antara aset kripto menjadi terbatas.
Terkait faktor geopolitik, ketegangan Iran-AS sempat membangun narasi Bitcoin sebagai alternatif safe haven darurat dan mendorong arus modal masuk dari wilayah regional terdampak pada pekan sebelumnya. Namun, dampak sentimen ini dinilai bersifat sementara karena pasar telah memperhitungkan risiko tersebut ke dalam valuasi.
Dengan demikian, ketegangan lanjutan di Timur Tengah diperkirakan tidak lagi memberi dorongan harga sekuat sebelumnya, kecuali terjadi eskalasi fundamental yang secara langsung melumpuhkan infrastruktur perbankan global.
Setelah target kenaikan jangka pendek di sekitar US$72.000 tercapai pekan lalu, proyeksi pasar kembali diarahkan pada faktor makroekonomi jangka panjang. Kenaikan sebelumnya disebut sebagai technical rebound dan dinilai tidak mengubah struktur siklus empat tahunan yang disebut masih berada dalam fase penurunan.
Tekanan dari faktor makro seperti kebijakan likuiditas Amerika Serikat dan lambatnya pemulihan ekonomi global masih disebut membebani. Tren konsolidasi menuju pelemahan diproyeksikan berlanjut, seiring proyeksi memburuknya inflasi di AS dan global.
Dalam outlook tersebut, rentang US$40.000 hingga US$45.000 disebut sebagai target utama untuk akumulasi investasi strategis jangka panjang, yang diperkirakan menjadi titik cycle bottom optimal pada Kuartal III atau Kuartal IV 2026. Strategi wait and see dinilai disarankan untuk menjaga nilai modal hingga momentum tersebut tiba, meski disebut pula bahwa menambah eksposur secara bertahap dapat menjadi pertimbangan, dengan penempatan modal pada area tersebut dipandang sebagai pembobotan terbaik pada siklus ini.

