Dampak pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait tata kelola dan transparansi pasar modal Indonesia diperkirakan masih menekan pergerakan pasar dalam beberapa bulan ke depan. Volatilitas dinilai belum mereda hingga mendekati tenggat evaluasi pada Mei 2026.
Chief Investment Officer Equity Manulife Aset Manajemen Indonesia, Samuel Kesuma, menyampaikan ketidakpastian masih membayangi arah kebijakan MSCI. Ia memperkirakan fluktuasi tinggi di pasar saham masih terjadi dalam 2–3 bulan ke depan.
Menurut Samuel, situasi ini berpotensi mempercepat reformasi pasar modal. Dampaknya dinilai bersifat jangka panjang dan positif karena dapat mengembalikan daya tarik saham berbasis fundamental.
Pengumuman MSCI mengenai aspek transparansi dan tata kelola yang perlu diperbaiki telah memicu respons pemerintah. Sejumlah aturan pasar modal pun disiapkan untuk diubah guna meredam dampak lanjutan.
Samuel menyebut MSCI sempat mengindikasikan potensi penurunan bobot saham Indonesia dalam indeks global. Opsi reklasifikasi dari emerging market ke frontier market juga sempat mencuat. Skenario tersebut dinilai berisiko memicu aksi jual investor asing. Namun, Samuel menilai peluang reklasifikasi turun ke frontier market saat ini rendah karena respons regulator dan pemerintah dinilai cepat dan serius.
Dalam penyesuaian kebijakan, pemerintah mengubah ketentuan likuiditas saham beredar dengan menetapkan ambang batas free float sebesar 15 persen.
Penguatan aspek transparansi juga dilakukan melalui kewajiban keterbukaan data ultimate beneficial owner. Aturan pengungkapan kepemilikan saham turut diperluas, dari sebelumnya ambang lima persen menjadi satu persen.
Dari sisi tata kelola pasar, perubahan mencakup percepatan demutualisasi bursa, penguatan penegakan aturan, sanksi, serta tata kelola emiten.
Di tengah kondisi tersebut, Samuel menyampaikan strategi investasi tetap difokuskan pada perusahaan berfundamental kuat dengan mempertimbangkan valuasi. Ia menilai aksi jual yang terjadi secara luas dapat membuka peluang karena valuasi saham dengan kinerja solid menjadi lebih menarik.
Samuel juga menyoroti bahwa beberapa perusahaan berkapitalisasi besar saat ini menawarkan dividen yield yang lebih tinggi dibanding imbal hasil obligasi negara.
Koreksi pasar turut direspons emiten melalui program pembelian kembali saham (buyback). Langkah ini ditempuh oleh emiten yang menilai harga saham berada di bawah nilai wajar.
Samuel menilai setelah tekanan pasar mereda, peluang pemulihan terbuka. Saham dengan pertumbuhan laba dan arus kas yang kuat diproyeksikan pulih lebih cepat. Ia juga memperkirakan dinamika pasar saham ke depan berpeluang menjadi lebih sehat.
Ke depan, fokus investor diperkirakan bergeser. Likuiditas yang sebelumnya terkonsentrasi pada saham kandidat indeks MSCI dinilai berangsur mengalir ke saham berbasis kinerja, seperti emiten dengan ekspektasi pertumbuhan laba yang lebih tinggi atau prospek pembayaran dividen yang menarik.

