BERITA TERKINI
Pasar Prediksi The Fed Pangkas 25 bps, BI Diperkirakan Tahan Suku Bunga Acuan

Pasar Prediksi The Fed Pangkas 25 bps, BI Diperkirakan Tahan Suku Bunga Acuan

Pasar keuangan secara luas mengantisipasi pemangkasan suku bunga kebijakan Amerika Serikat, Federal Funds Rate (FFR), pada rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pekan ini. Berdasarkan indikator CME FedWatch, probabilitas penurunan FFR sebesar 25 basis poin (bps) pada 17 September mencapai 96,4%, sementara peluang pemangkasan 50 bps tercatat 3,6%.

Ekspektasi pemangkasan suku bunga juga berlanjut untuk pertemuan berikutnya. Peluang pemangkasan lanjutan sebesar 25 bps pada 29 Oktober dan 10 Desember masing-masing tercatat 81% dan 73,8%. Perkiraan tersebut mencerminkan keyakinan pasar bahwa penurunan suku bunga AS akan terjadi dalam waktu dekat.

Prediksi pemangkasan yang dinilai agresif ini dipicu oleh pelemahan data ketenagakerjaan AS. Non-farm payroll (NFP) pada Agustus hanya bertambah 22 ribu, jauh di bawah konsensus 75 ribu serta menurun dibandingkan Juli yang mencapai 79 ribu.

Selain itu, pada Juni NFP tercatat mengalami kontraksi 13 ribu, yang menjadi penurunan bulanan pertama sejak 2020. Sementara tingkat pengangguran naik menjadi 4,3%, level tertinggi dalam hampir empat tahun terakhir.

Di sisi lain, inflasi indeks harga konsumen (IHK) AS meningkat menjadi 2,9% secara tahunan (year-on-year) pada Agustus, yang merupakan level tertinggi dalam delapan bulan terakhir. Kondisi ini dinilai menandakan risiko stagflasi, yakni kenaikan pengangguran yang disertai lonjakan inflasi.

Situasi tersebut disebut terkait dengan kebijakan pemerintahan Donald Trump, termasuk pemberlakuan tarif impor baru secara masif serta regulasi ketenagakerjaan yang lebih ketat. Ancaman stagflasi dan ekspektasi pemangkasan suku bunga dalam beberapa bulan ke depan turut menekan dolar AS. Dalam lebih dari sepekan terakhir, indeks dolar (DXY) stabil di kisaran 97–98.

Pelemahan dolar juga berdampak pada pergerakan Rupiah yang sempat tertekan di tengah ketidakstabilan politik di dalam negeri, termasuk pergantian posisi Menteri Keuangan.

Di Indonesia, Analis Mirae Asset Rully Arya Wisnubroto memperkirakan Bank Indonesia (BI) akan menahan suku bunga acuan pada Rapat Dewan Gubernur pekan ini. Menurutnya, BI telah cukup agresif menurunkan suku bunga sebesar 125 bps sejak September 2024 hingga Agustus 2025.