Bursa saham global bergerak fluktuatif sepanjang pekan ini seiring meningkatnya ketidakpastian akibat ketegangan geopolitik. Pasar dinilai tetap sensitif terhadap perkembangan berita utama, dengan perhatian global tertuju pada eskalasi perang di Iran yang disebut meningkat signifikan pada 28 Februari 2026, ditandai dengan dimulainya “Operasi Epic Fury”.
Dalam eskalasi tersebut, Amerika Serikat dan Israel dilaporkan melancarkan serangan besar-besaran dan terkoordinasi di berbagai wilayah Iran yang menargetkan pertahanan serta kepemimpinan senior. Serangan itu dikabarkan mengakibatkan kematian pemimpin tertinggi Iran dan memicu pembalasan Iran terhadap wilayah teluk yang bersekutu dengan AS serta sejumlah pangkalan AS.
Dampak konflik turut terasa pada pasar komoditas, terutama energi. Harga komoditas energi melonjak pekan ini, didorong gangguan pasokan dan jalur perdagangan. Di tengah sentimen penghindaran risiko, sejumlah indikator aset lindung nilai mencerminkan kekhawatiran terhadap inflasi. Imbal hasil obligasi pemerintah AS naik, dengan UST10Y dan UST2Y masing-masing meningkat 22 basis poin menjadi 4,16% dan 3,60% pada pekan ini. Sementara itu, harga emas disebut tetap bertahan di sekitar level 5.100, meski masih berada di bawah level sebelum konflik.
Menurut riset Ashmore, dampak utama konflik terhadap pasar global terjadi melalui Selat Hormuz yang dinilai menjadi “medan pertempuran ekonomi”. Serangan terhadap kapal-kapal komersial di selat tersebut membuat operator utama menangguhkan aktivitas, bersamaan dengan meningkatnya biaya asuransi. Selat Hormuz disebut berperan penting bagi pasokan energi global, menyumbang sekitar 20% dari perdagangan global minyak dan LNG.
Berdasarkan perkiraan yang dikutip, gangguan berkepanjangan berpotensi mendorong harga minyak hingga USD 100 per barel dan LNG mendekati USD 25 per MMBtu, bergantung pada lamanya konflik. Meski Selat Hormuz tidak ditutup secara hukum, aktivitas perdagangan disebut secara efektif terhenti hingga kondisi dinilai kembali kondusif untuk bisnis.
Riset tersebut juga menilai terdapat alasan bagi AS untuk menginginkan penyelesaian konflik lebih cepat, meski kepentingan AS dan Israel mungkin tidak sepenuhnya selaras. Inflasi disebut tetap menjadi faktor kunci dalam tingkat persetujuan presiden, dengan lonjakan harga minyak mulai berdampak pada warga AS. Harga bensin dilaporkan naik signifikan dari titik terendah awal Januari, sekitar 59%, dan mencapai level yang terakhir terlihat sekitar April 2024.
Kekhawatiran inflasi ini turut dikaitkan dengan kenaikan imbal hasil obligasi AS, meski sentimen pasar cenderung menghindari risiko. Pemerintahan Trump disebut kemungkinan menginginkan inflasi lebih terkendali menjelang pemilihan paruh waktu.
Di dalam negeri, Bursa Efek Indonesia bersama Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) merilis daftar pemegang saham dengan kepemilikan setidaknya 1% untuk saham publik, turun dari batas sebelumnya 5%. Langkah ini disebut sebagai bagian dari komitmen dan hasil kerja pemerintah Indonesia untuk meningkatkan transparansi di pasar modal. Ashmore menyatakan meski belum ada tanggapan resmi dari penyedia indeks global, upaya berkelanjutan dinilai dapat mengurangi kekhawatiran investor global.
Terkait strategi, Ashmore menyampaikan masih memantau perkembangan dan menunggu pengungkapan pemilik manfaat utama beserta rincian yang lebih detail mengenai jenis investor serta daftar konsentrasi pemegang saham. Di tengah volatilitas yang signifikan, Ashmore merekomendasikan posisi yang baik pada aset defensif seperti obligasi pemerintah jangka pendek dengan likuiditas kuat. Untuk ekuitas, strategi manajemen aktif dinilai penting guna mengurangi risiko sambil tetap memanfaatkan peluang taktis, termasuk di sektor energi dan komoditas.
Ashmore juga menyebut mempertimbangkan investasi pada saham dan sukuk untuk melengkapi portofolio investor dari sisi diversifikasi, dengan preferensi pada saham berfundamental kuat serta valuasi dan likuiditas yang wajar.

