Jakarta — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan pemerintah belum berencana merevisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026, meski perekonomian global tengah diliputi ketidakpastian akibat perang Amerika Serikat dan Iran.
Purbaya mengatakan, hingga saat ini belum ada kebutuhan mendesak untuk mengubah APBN karena kondisi fiskal dinilai masih cukup kuat, didukung kinerja penerimaan negara yang membaik. Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi pers APBN KITA edisi Maret 2026 di Jakarta, Rabu, 11 Maret 2026.
Menurutnya, APBN 2026 sejak awal memang dirancang dalam posisi defisit untuk memberi ruang bagi pemerintah mendorong aktivitas ekonomi. Pemerintah juga berupaya mempercepat penyerapan belanja sejak awal tahun agar dampaknya dapat lebih cepat dirasakan masyarakat dan dunia usaha.
Meski belum ada rencana revisi, Purbaya menegaskan pemerintah tetap menyiapkan langkah antisipasi apabila tekanan ekonomi global meningkat dan berdampak pada fiskal domestik. Penyesuaian kebijakan fiskal, termasuk perubahan pada APBN, tetap dimungkinkan jika situasi ke depan memerlukan.
Ia juga meminta masyarakat tidak khawatir terhadap kondisi fiskal pemerintah. Pengelolaan APBN, kata dia, tetap diarahkan untuk menjaga stabilitas ekonomi sekaligus melindungi daya beli.
Hingga akhir Februari 2026, APBN tercatat mengalami defisit Rp135,7 triliun atau setara 0,53% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka tersebut masih berada dalam koridor desain APBN 2026 yang menargetkan defisit Rp698,15 triliun atau sekitar 2,68% terhadap PDB.
Di sisi penerimaan, pendapatan negara hingga Februari 2026 tercatat mencapai Rp358 triliun atau 11,4% dari target APBN sebesar Rp3.153,6 triliun, tumbuh 12,8% secara tahunan. Kinerja tersebut terutama ditopang penerimaan perpajakan yang mencapai Rp290 triliun atau 10,8% dari target.
Secara rinci, penerimaan pajak tercatat Rp245,1 triliun atau 10,4% dari target dan tumbuh 30,4% secara tahunan. Sementara penerimaan kepabeanan dan cukai mencapai Rp44,9 triliun atau 13,4% dari target, namun masih terkontraksi 14,7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

