Jakarta, CNBC Indonesia—Economist CNBC Indonesia Research, Maesaroh, menilai perang Iran–Amerika Serikat menjadi sentimen negatif yang mengguncang perekonomian dunia, termasuk Indonesia. Ketegangan di Timur Tengah disebut berpotensi memperlebar risiko terhadap pasar keuangan serta stabilitas fiskal di dalam negeri.
Menurut Maesaroh, salah satu kekhawatiran utama bagi Indonesia adalah ancaman terhadap rantai pasok minyak mentah dunia. Kondisi tersebut dikhawatirkan mengganggu pasokan energi di Tanah Air, terutama bahan bakar minyak (BBM) dan LPG.
Dari sisi fiskal, kenaikan harga minyak mentah dunia dinilai dapat mendorong peningkatan beban subsidi energi. Situasi ini juga berpotensi menekan nilai tukar Rupiah dan membuat defisit APBN membengkak.
Maesaroh menambahkan, pada kuartal I-2026 ekonomi Indonesia masih berpeluang ditopang konsumsi selama Ramadan dan Lebaran. Namun, ia menilai kuartal berikutnya tetap akan menjadi periode yang menantang.
Di pasar keuangan, gejolak bursa efek disebut dapat dipengaruhi sentimen indeks global seperti MSCI dan FTSE. Kekhawatiran pelaku pasar terhadap dampak perang di Timur Tengah juga dinilai berpotensi memperburuk tekanan di pasar.
Pembahasan mengenai dampak perang terhadap ekonomi Indonesia disampaikan dalam dialog Syarifah Rahma bersama Maesaroh dalam program Squawk Box CNBC Indonesia, Jumat (06/03/2026).

