BERITA TERKINI
Perang Iran Picu Kekhawatiran Baru, Elite Ekonomi Global Sulit Menyusun Respons

Perang Iran Picu Kekhawatiran Baru, Elite Ekonomi Global Sulit Menyusun Respons

Perang Iran mendorong para pemimpin ekonomi global melakukan evaluasi ulang mengenai cara merespons rangkaian guncangan yang dinilai belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Memasuki pekan keempat sejak konflik dimulai, gangguan pasokan energi disebut sudah cukup parah sehingga bahkan penghentian permusuhan secara tiba-tiba pun tidak akan serta-merta mengembalikan kondisi seperti sebelum krisis.

Pandangan itu disampaikan Richard Koo, kepala ekonom di Nomura Research. Dalam wawancara di bengkel Ambrosetti di tepi Danau Como, Italia, Koo mengatakan pemulihan akan memerlukan waktu panjang. “Akan butuh waktu lama untuk memperbaiki semuanya,” ujarnya.

Koo menilai pemerintah dan bank sentral tengah berhadapan dengan jenis guncangan pasokan yang sulit ditangani. Menurutnya, ketidakpastian membuat perencanaan menjadi nyaris mustahil. “Jika berakhir, orang dapat mulai merencanakan. Untuk saat ini, tidak ada yang bisa merencanakan apa pun,” kata Koo.

Ketidakpastian juga disebut meningkat pada masa jabatan kedua Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Kebijakan tarif yang mengganggu aliansi perdagangan, ancaman terhadap Greenland, serta keluhan mengenai NATO dinilai menambah kekhawatiran Eropa terkait keamanan.

Di saat bersamaan, perang yang dilancarkan pada 28 Februari oleh Amerika Serikat dan Israel disebut menabur kecemasan mengenai energi dan masa depan Timur Tengah. Kombinasi faktor-faktor tersebut memperkuat tekanan bagi para pembuat kebijakan dan pelaku pasar untuk mencari jawaban atas risiko yang terus berubah.