BERITA TERKINI
Permata Bank Waspadai Risiko Geopolitik dan Harga Minyak terhadap Prospek Ekonomi 2026

Permata Bank Waspadai Risiko Geopolitik dan Harga Minyak terhadap Prospek Ekonomi 2026

Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk, Josua Pardede, menilai prospek ekonomi pada 2026 masih menghadapi sejumlah tantangan dari faktor global. Menurutnya, risiko tersebut terutama datang dari dinamika geopolitik dan kondisi pasar keuangan internasional.

Ia menyebut ketidakpastian global dipengaruhi oleh meningkatnya tensi geopolitik, perang dagang, arah kebijakan suku bunga global yang semakin beragam, serta perlambatan ekonomi di sejumlah negara dan wilayah, termasuk Hong Kong. Meski demikian, Josua menyampaikan bahwa dalam skenario dasar (baseline), prospek ekonomi masih berada pada jalur positif.

“Namun kalau kita bicara dalam hal ini forecast, baseline kami memang prospek ekonomi masih positif,” ujar Josua di Jakarta, Kamis, 12 Maret 2026.

Salah satu risiko utama yang perlu diwaspadai, menurut Josua, adalah potensi konflik berkepanjangan di kawasan Timur Tengah yang dapat memicu lonjakan harga minyak mentah dunia. Dalam skenario terburuk (worst case scenario), konflik yang berlarut-larut dinilai berpotensi mendorong kenaikan harga minyak secara signifikan.

Kenaikan harga minyak tersebut dapat berdampak pada meningkatnya tekanan inflasi, baik di tingkat global maupun domestik. Selain itu, ketegangan geopolitik juga berpotensi mengubah sentimen di pasar keuangan global. Dalam situasi ketidakpastian, investor cenderung memindahkan dana ke aset yang dinilai lebih aman (safe haven).

“Di pasar keuangan, kecenderungan investor akan mencari aset-aset yang aman atau safe haven di tengah konflik perang di Timur Tengah,” kata Josua.

Dari sisi industri perbankan, Josua menilai perlambatan ekonomi akibat tekanan eksternal dapat memengaruhi kinerja sektor tersebut, terutama pada pertumbuhan kredit. Ia menjelaskan bahwa perbankan berada di hilir aktivitas ekonomi, sehingga perlambatan ekonomi biasanya akan tercermin pada kinerja perbankan.

Meski begitu, ia menyebut kondisi industri perbankan saat ini masih relatif terjaga. Mengacu pada data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), tingkat risiko sektor perbankan dinilai masih berada pada level yang terkendali.

“Meskipun memang kalau kita melihat dari beberapa data OJK yang menunjukkan bahwa tingkat risiko masih relatif manageable. Secara industri di Januari itu juga berada di kisaran 9 persen, masih relatif lebih rendah dibandingkan akhir 2023,” ujarnya.

Josua menekankan, perkembangan kondisi global tetap perlu dicermati karena berpotensi memengaruhi kinerja sektor keuangan apabila konflik geopolitik berlangsung berkepanjangan. Dalam konteks itu, Permata Bank memperkuat manajemen risiko untuk mengantisipasi dinamika global.