Jejak investasi Lo Kheng Hong kembali menjadi perhatian pelaku pasar modal. Investor yang kerap dijuluki “Warren Buffett Indonesia” itu diketahui memiliki portofolio saham bernilai ratusan miliar rupiah yang tersebar di sejumlah emiten Bursa Efek Indonesia (BEI).
Berdasarkan data yang dirilis EmitenNews, daftar tersebut memuat saham-saham yang dimiliki Lo Kheng Hong dengan porsi kepemilikan di atas 1 persen. Dari sejumlah saham utama yang tercantum, estimasi nilai pasar kepemilikannya mencapai ratusan miliar rupiah.
Dalam daftar yang dipublikasikan, saham dengan nilai pasar terbesar adalah ABMM. Lo Kheng Hong tercatat memiliki 154.835.300 lembar saham atau setara 5,62 persen, dengan estimasi nilai pasar sekitar Rp 472 miliar.
Berikutnya adalah SIMP, dengan kepemilikan 779.207.000 lembar atau 5,03 persen, senilai sekitar Rp 464 miliar. Selain itu, ia juga memiliki posisi di sejumlah emiten lain, antara lain GJTL dengan nilai sekitar Rp 225 miliar, BMTR sekitar Rp 140 miliar, serta LSIP sekitar Rp 107 miliar.
Di luar saham-saham bernilai besar tersebut, Lo Kheng Hong juga tercatat memiliki kepemilikan di beberapa emiten lain dengan nilai puluhan miliar rupiah, seperti DILD sekitar Rp 90 miliar, RALS sekitar Rp 78 miliar, PNIN sekitar Rp 40 miliar, dan SRIL sekitar Rp 31 miliar. Ada pula kepemilikan yang lebih kecil namun tetap signifikan di saham CFIN, ADMG, MAIN, dan BEST.
Catatan tersebut menyebutkan nilai pasar dihitung menggunakan harga penutupan perdagangan 5 Maret 2026, serta hanya mencantumkan saham dengan kepemilikan melebihi 1 persen.
Komposisi portofolio yang didominasi sektor komoditas, energi, dan agribisnis dinilai mencerminkan pola investasi yang konsisten dengan filosofi value investing yang selama ini dikenal melekat pada Lo Kheng Hong. Portofolio itu juga memperlihatkan karakter investasinya yang kerap membeli saham perusahaan yang dinilai undervalued dan menahannya untuk jangka panjang.
Alih-alih memburu saham yang sedang populer, ia disebut sering masuk ke emiten yang kurang diminati pasar, namun dianggap memiliki fundamental yang kuat. Strategi ini menuntut kesabaran, dan daftar kepemilikan yang kembali terbuka ini menjadi salah satu bahan pembelajaran bagi investor ritel bahwa keberhasilan di pasar modal tidak selalu bertumpu pada transaksi cepat atau spekulasi jangka pendek.

