Qatar memperingatkan perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran berisiko menjatuhkan perekonomian dunia. Peringatan itu disampaikan Menteri Energi Qatar Saad al-Kaabi, yang menilai eskalasi konflik dapat mengganggu ekspor energi dari negara-negara Teluk dalam hitungan hari dan mendorong lonjakan harga minyak.
Dalam pernyataannya kepada Financial Times yang dikutip Middle East Eye pada Jumat (6/3), Saad al-Kaabi mengatakan serangan Israel dan AS di kawasan tersebut, serta serangan balasan Iran, berpotensi menghentikan seluruh ekspor energi negara-negara Teluk. Menurutnya, situasi itu dapat mengerek harga minyak hingga US$150 per barel.
“Hal ini akan menjatuhkan perekonomian dunia,” kata Saad al-Kaabi. Ia menambahkan, jika perang berlanjut selama beberapa minggu, pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) global akan terdampak. Ia juga memperkirakan harga energi di berbagai negara akan naik, terjadi kekurangan sejumlah produk, dan muncul efek berantai ketika pabrik tidak dapat memasok barang.
Saad al-Kaabi menyebut serangan Iran sebelumnya telah mendorong Arab Saudi dan Qatar menghentikan produksi di fasilitas minyak dan gas utama. Pada awal pekan ini, dua drone Iran juga dilaporkan menyerang fasilitas energi di kota industri Ras Laffan dan Mesaieed di Qatar, menurut Kementerian Pertahanan Qatar.
Kementerian Pertahanan Qatar kemudian menyatakan telah menembak jatuh dua jet tempur SU-24 yang datang dari Iran. Tidak ada korban jiwa dalam serangan drone tersebut. Namun, Qatar Energy—produsen gas alam cair (LNG) terbesar di dunia—mengumumkan penghentian produksi LNG dan produk terkait.
Saad al-Kaabi juga menyinggung kemungkinan penerapan force majeure oleh eksportir energi di kawasan. Ia mengatakan pihak yang belum menyatakan force majeure kemungkinan akan melakukannya dalam beberapa hari jika situasi berlanjut. Menurutnya, seluruh eksportir di kawasan Teluk harus menyatakan force majeure untuk menghindari potensi tanggung jawab hukum.
Di pasar, harga minyak mentah Brent dilaporkan naik 2,5 persen menjadi US$87,6 per barel pada Jumat pagi waktu Eropa, yang disebut sebagai level tertinggi sejak konflik pecah pada Sabtu sebelumnya.
Saad al-Kaabi memprediksi harga minyak mentah dapat melonjak hingga US$150 per barel dalam dua hingga tiga pekan ke depan apabila kapal tanker dan kapal dagang lain tidak dapat melewati Selat Hormuz akibat gangguan dari Iran. Sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia melewati selat tersebut.
Selain minyak, ia memperkirakan harga gas dapat meningkat hingga US$40 per juta British thermal units (MMBtu), hampir empat kali lipat dibandingkan sebelum perang dimulai. Ia menambahkan, dampak konflik tidak hanya pada energi, tetapi juga perdagangan lain antara kawasan Teluk dan dunia yang dapat terhenti, sehingga memberi tekanan besar pada perekonomian negara-negara Teluk serta mitra dagang di berbagai negara.

