BERITA TERKINI
Riset UGM: Investasi Teknologi Tak Otomatis Mengerek Harga Saham di Indonesia

Riset UGM: Investasi Teknologi Tak Otomatis Mengerek Harga Saham di Indonesia

Pengumuman investasi teknologi informasi (TI) oleh perusahaan terbuka kerap dipersepsikan sebagai sinyal positif yang otomatis mendorong harga saham. Namun riset akademisi Universitas Gadjah Mada (UGM) menunjukkan, dalam konteks pasar modal Indonesia, reaksi investor terhadap kabar semacam itu tidak terjadi secara cepat dan tidak selalu signifikan.

Dosen Departemen Akuntansi Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM, Singgih Wijayana, menjelaskan bahwa dalam dua dekade terakhir banyak perusahaan di berbagai negara meningkatkan belanja teknologi—mulai dari penerapan enterprise resource planning (ERP), pengembangan e-commerce, hingga digital banking—dengan harapan efisiensi meningkat dan nilai perusahaan naik. Meski demikian, ia menilai pola tersebut tidak sepenuhnya berlaku di Indonesia karena karakter pasar modal domestik yang berbeda.

Menurut Singgih, pasar modal Indonesia dikenal sebagai thin market, yakni pasar dengan aktivitas perdagangan yang relatif tidak padat dibanding negara maju. Dalam kondisi ini, informasi baru tidak selalu cepat diserap oleh investor dan tidak segera tercermin pada harga saham.

Temuan tersebut disampaikan dalam penelitian Singgih bersama Prof Didi Achjari berjudul Market Reaction to the Announcement of an Information Technology Investment Evidence from Indonesia. Studi itu menganalisis 179 pengumuman investasi TI oleh perusahaan publik di Bursa Efek Indonesia sepanjang 2001–2016. Pergerakan saham diamati di sekitar tanggal pengumuman hingga 60 hari setelahnya untuk membaca pola respons pasar, dengan metode yang disesuaikan untuk kondisi thin market, termasuk penyesuaian risiko melalui adjusted beta Scholes Williams dan Dimson.

Hasilnya, penelitian tersebut tidak menemukan reaksi pasar yang signifikan di sekitar tanggal pengumuman investasi teknologi. Artinya, investor di Indonesia tidak langsung menanggapi kabar investasi TI. Singgih menilai investor cenderung menahan diri dan menunggu beberapa bulan untuk melihat apakah investasi tersebut benar-benar berdampak pada kinerja keuangan perusahaan.

Meski tidak memicu respons instan secara umum, penelitian itu mencatat reaksi pasar yang relatif lebih kuat pada sektor dan karakter emiten tertentu. Perusahaan perbankan, emiten berukuran kecil, serta perusahaan yang baru pertama kali mengadopsi teknologi seperti ERP disebut lebih menarik perhatian investor. Temuan ini menunjukkan bahwa jenis industri, skala bisnis, dan pengalaman dalam penggunaan teknologi turut memengaruhi cara pasar menilai pengumuman investasi TI.

Riset tersebut juga menjadi catatan bagi manajemen perusahaan bahwa belanja teknologi tidak otomatis meningkatkan valuasi saham. Pasar, menurut Singgih, membutuhkan penjelasan yang lebih konkret mengenai manfaat jangka panjang—termasuk arah bisnis, potensi efisiensi, serta dampaknya terhadap profitabilitas—agar nilai tambah investasi dapat dipahami investor.

Singgih menambahkan, temuan ini mengindikasikan pasar modal Indonesia masih dalam proses menuju pasar yang efisien. Perilaku investor juga masih dipengaruhi faktor psikologis serta keterbatasan dalam pengambilan keputusan rasional, sehingga proses pembentukan harga yang mencerminkan informasi fundamental dapat berjalan lebih lambat.

Dari sisi struktur pasar, sejumlah indikator memperlihatkan alasan mengapa informasi baru tidak selalu cepat tercermin pada harga. Data Bursa Efek Indonesia mencatat rata-rata nilai transaksi harian sepanjang 2025 berada di kisaran Rp18,07 triliun, lalu meningkat pada awal 2026 hingga sekitar Rp32 triliun per hari. Meski naik, angka tersebut dinilai masih jauh dibanding bursa negara maju yang likuiditasnya lebih tebal.

Komposisi pelaku pasar juga menunjukkan dominasi investor ritel. Sekitar 52% transaksi harian berasal dari investor individu, sementara investor asing sekitar 30% dan sisanya institusi domestik. Struktur ini membuat pergerakan harga saham lebih rentan dipengaruhi sentimen jangka pendek, sehingga penyerapan informasi fundamental dapat berlangsung bertahap.

Jumlah investor pasar modal memang meningkat. Hingga 2025, tercatat 20,3 juta single investor identification (SID), dengan 8,59 juta di antaranya merupakan investor saham. Namun partisipasi aktif dinilai masih terbatas: investor yang aktif bertransaksi setiap bulan sekitar 901 ribu, sedangkan investor harian aktif berada di kisaran 179 ribu. Kesenjangan ini membuat likuiditas belum merata di seluruh saham dan memperpanjang waktu pasar dalam merespons informasi baru.

Selain itu, faktor free float dan konsentrasi kepemilikan turut memengaruhi kedalaman pasar. Dari lebih dari 900 emiten hingga akhir 2025, tercatat 267 emiten memiliki free float di bawah 15%. Rendahnya porsi saham yang beredar di publik menyebabkan likuiditas terkonsentrasi pada saham tertentu. Potensi tambahan saham ke publik dari peningkatan free float diperkirakan mencapai Rp187 triliun. Secara agregat, kapitalisasi pasar saham Indonesia berada di kisaran 72% terhadap produk domestik bruto, yang mencerminkan pasar berkembang.

Di tengah kondisi tersebut, transformasi digital emiten tetap berjalan. Sektor perbankan menjadi salah satu yang paling agresif dalam belanja TI. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mengalokasikan sekitar Rp8 triliun–Rp9 triliun per tahun, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) sekitar Rp6 triliun–Rp7 triliun, dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sekitar Rp4 triliun–Rp5 triliun setiap tahun. Belanja itu diarahkan untuk pengembangan digital banking, penguatan keamanan siber, pembangunan pusat data, serta pemanfaatan kecerdasan buatan dan analitik data.

Namun, sebagaimana ditunjukkan riset UGM, pengumuman investasi besar sekalipun tidak selalu diikuti respons instan dari pasar. Dengan dominasi investor ritel, partisipasi aktif yang terbatas, serta kepemilikan saham yang terkonsentrasi, investor cenderung menunggu bukti konkret berupa perbaikan kinerja keuangan sebelum informasi investasi teknologi benar-benar tercermin dalam harga saham.