Bursa saham Asia diperkirakan akan dibuka menguat pada Kamis, mengikuti penguatan saham-saham Amerika Serikat yang ditopang rebound sektor teknologi serta data ekonomi yang dinilai kuat. Di saat yang sama, kenaikan imbal hasil obligasi Treasury turut mendukung penguatan dolar AS, sementara harga minyak tercatat melonjak.
Kontrak berjangka indeks saham Jepang dan Australia bergerak naik. Sementara itu, pasar China masih tutup karena libur Tahun Baru Imlek.
Di Wall Street, indeks S&P 500 menguat 0,6% pada Rabu, sedangkan Nasdaq 100 yang didominasi saham teknologi naik 0,8%. Indeks yang mengukur kinerja produsen cip naik 1%, dan ETF yang melacak perusahaan perangkat lunak melonjak 1,3%.
Aktivitas perdagangan di New York menunjukkan kekhawatiran pasar terhadap potensi disrupsi kecerdasan buatan (AI) mulai mereda. Pada saat yang sama, sejumlah analis saham mencermati adanya peluang beli di tengah tekanan yang sempat terjadi.
Paul Stanley dari Granite Bay Wealth Management menilai penurunan harga saham perangkat lunak kemungkinan “berlebihan”. Menurutnya, pelemahan tersebut sebagian besar merupakan reaksi spontan ketika investor berupaya mengidentifikasi pihak yang akan diuntungkan maupun dirugikan oleh perkembangan AI.

