BERITA TERKINI
Salamuddin Daeng: Upaya Menciptakan Krisis Energi Lewat Perang Dinilai Gagal, Petro Dollar Tetap Harus Berakhir

Salamuddin Daeng: Upaya Menciptakan Krisis Energi Lewat Perang Dinilai Gagal, Petro Dollar Tetap Harus Berakhir

Peneliti Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Salamuddin Daeng menilai perang yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat tidak akan mampu memicu krisis energi maupun krisis ekonomi global. Ia menyebut, bahkan jika AS dan Iran “bersatu sekalipun”, upaya menciptakan krisis tetap tidak akan berhasil.

Dalam tulisannya, Salamuddin mengingatkan bahwa sebelum perang Iran versus Israel dan AS mencuat, banyak analis menarik dua kesimpulan utama: pasokan minyak akan terganggu sehingga harga minyak naik, serta petro dollar akan kembali dominan melalui pencetakan dolar untuk membiayai ekonomi dunia yang runtuh. Namun menurutnya, kesimpulan kedua tidak akan terjadi karena perang ini dinilai gagal menciptakan krisis energi.

Ia memandang konflik tersebut sebagai rangkaian dari perang sporadis sebelumnya, seperti Rusia versus Ukraina di Eropa dan AS versus Venezuela. Salamuddin menyebut rangkaian perang itu membawa tema serupa, yakni upaya memulihkan kembali peran minyak sebagai pengatur ekonomi dunia—bukan sekadar bahan bakar, melainkan “mesin pencetak uang”.

Menurutnya, kegagalan menciptakan krisis energi akan berujung pada gagalnya rencana yang lebih besar. Ia mempertanyakan bagaimana perang dapat memicu krisis keuangan dan ekonomi jika krisis energi tidak terjadi, dan bagaimana Federal Reserve dapat mengembalikan legitimasi dalam membuat uang jika krisis ekonomi juga tidak terbentuk.

Salamuddin menilai minyak memang kerap dijadikan instrumen untuk memicu krisis, tetapi dunia telah bergerak menjauh dari ketergantungan tersebut. Ia menyebut dunia menuju era “free energi”, meski belum terlihat saat ini, dan mengklaim komunitas global sudah menunjukkan karya bahwa listrik dapat dihasilkan secara gratis tanpa bahan bakar fosil.

Ia juga menilai krisis minyak sulit diwujudkan melalui perang ini karena pasokan minyak dari Selat Hormuz disebut hanya sekitar 20 persen dari pasokan minyak global. Angka itu, menurutnya, setara dengan porsi energi nonfosil di dunia yang juga disebut mendekati 20 persen. Dengan kondisi tersebut, ia menilai dunia semakin kebal terhadap manuver “pemain minyak”.

Salamuddin turut menyinggung pengalaman pandemi Covid-19, yang menurutnya menunjukkan upaya menciptakan krisis dapat berantakan dan kemudian dilupakan. Ia menambahkan, ada pola yang menurutnya menarik: harga komoditas yang menjadi andalan ekonomi Indonesia cenderung naik saat terjadi wabah, konflik, dan perang.

Ia mencontohkan pada masa Covid-19 harga batu bara disebut sempat naik hingga 400 dolar AS per ton, dan komoditas lain juga meningkat tajam. Ia menyebut hal serupa terjadi saat perang Iran versus AS dan Israel.

Meski demikian, Salamuddin menegaskan Indonesia bukan pengatur dinamika tersebut dan menyebut Indonesia ingin berbuat baik bagi dunia sesuai amanat Pembukaan UUD 1945. Ia menyimpulkan, selama Indonesia tidak ikut dalam krisis dunia, situasi akan tetap baik-baik saja.

Di sisi lain, ia menekankan hal yang perlu dipastikan pemerintah, termasuk Presiden Prabowo Subianto, adalah agar kenaikan harga komoditas kali ini menjadi “tabungan” bagi pembangunan ekonomi nasional serta upaya membantu perdamaian dunia.