Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) melalui Program Studi Pendidikan Akuntansi dan Psikologi menyelenggarakan program Pengabdian kepada Masyarakat Kemitraan Internasional (PkM-KI) bertema “Penguatan Ketahanan Mental dan Kepercayaan Diri Finansial bagi Diaspora Indonesia di Jepang melalui Integrasi Pendidikan Keuangan dan Kesejahteraan Emosional.” Kegiatan ini digelar dalam tiga pertemuan, terdiri dari dua sesi daring dan satu sesi luring, bekerja sama dengan Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Jepang.
Puncak kegiatan luring berlangsung di Masjid Indonesia Tokyo pada Ahad, 1 Februari 2026. Program tersebut diikuti jamaah masjid yang berasal dari komunitas PCIM Jepang serta diaspora Indonesia di wilayah Tokyo dan sekitarnya.
Program ini diselenggarakan dengan latar meningkatnya jumlah diaspora Indonesia di Jepang yang menghadapi tantangan biaya hidup tinggi, kompleksitas sistem keuangan, serta tekanan sosial untuk tetap mengirim remitansi ke tanah air. Meski sebagian memiliki pendapatan relatif baik, sejumlah diaspora dinilai belum memiliki perencanaan keuangan yang sistematis dan masih rentan terhadap utang konsumtif maupun stres finansial.
Bendahara PCIM Jepang, Miftah, dalam sambutannya menekankan pentingnya literasi keuangan bagi pekerja migran dan diaspora Indonesia. Ia menyebut literasi keuangan diperlukan agar pekerja migran tidak terlilit utang serta memiliki kestabilan emosi dalam mengatur keuangan. “Penghasilan saja tidak cukup tanpa pengelolaan yang bijak,” ujarnya.
Ketua Tim Pengabdi, Dhany Efita Sari, Ph.D., dosen Pendidikan Akuntansi UMS, menjelaskan pendekatan program tidak hanya berbasis teori keuangan, tetapi juga mengintegrasikan aspek psikologis dalam pengambilan keputusan ekonomi. Materi utama yang disampaikan adalah konsep mindful spending, yakni pendekatan pengelolaan keuangan yang menekankan kesadaran penuh sebelum melakukan pembelian.
Dhany menyampaikan peserta diajak memahami prinsip pause before purchase, yaitu berhenti sejenak sebelum membeli, mengevaluasi apakah pengeluaran merupakan kebutuhan atau keinginan, serta memastikan keputusan finansial selaras dengan nilai dan tujuan hidup jangka panjang. Melalui permainan, simulasi, dan studi kasus literasi keuangan, peserta berlatih membedakan kebutuhan dan keinginan, menyusun rencana pengeluaran, serta merefleksikan hubungan antara emosi dan keputusan belanja.
Pendekatan tersebut dinilai relevan di tengah gencarnya promosi digital, diskon musiman, serta tren wisata dan “healing” yang populer di kalangan diaspora. Tanpa kesadaran finansial yang kuat, pengeluaran impulsif dapat berujung pada beban utang dan tekanan psikologis.
Dari sisi psikologi, dosen Psikologi UMS Isnaya Arina Hidayati, M.Psi., membahas aspek financial mental health. Ia memberikan tips dan strategi praktis untuk mengelola kecemasan finansial (financial anxiety), meningkatkan kepercayaan diri dalam pengelolaan uang (financial self-efficacy), serta melatih teknik mindfulness sederhana untuk menjaga keseimbangan emosi saat menghadapi tekanan ekonomi.
Menurut Isnaya, kesehatan mental dan literasi keuangan tidak dapat dipisahkan. Individu dengan perencanaan keuangan yang baik cenderung lebih stabil secara emosional, lebih tenang menghadapi ketidakpastian, dan mampu mengambil keputusan secara rasional.
Rangkaian program dimulai dari koordinasi dan analisis kebutuhan, dilanjutkan survei awal serta pretest literasi finansial dan ketahanan mental. Setelah itu, peserta mengikuti pelatihan Mindful Spending secara luring, pelatihan Financial Mental Health secara daring, kemudian posttest dan refleksi bersama. Evaluasi dilakukan untuk mengukur peningkatan pemahaman dan perubahan perilaku finansial peserta.
Melalui kegiatan ini, UMS berharap terbentuk komunitas diaspora Indonesia di Jepang yang tangguh secara finansial, stabil secara emosional, serta lebih percaya diri dalam mengelola pendapatan dan pengeluaran di lingkungan dengan biaya hidup tinggi. Program tersebut juga disebut sebagai kontribusi internasional UMS dalam pengabdian masyarakat berbasis integrasi keilmuan akuntansi dan psikologi, sekaligus upaya pemberdayaan yang menyentuh dimensi mental, sosial, dan spiritual diaspora Indonesia di luar negeri.

