WASHINGTON — Utang nasional Amerika Serikat dilaporkan telah melampaui 39 triliun dolar AS dan dinilai berpotensi menjadi risiko besar bagi stabilitas ekonomi global. Namun, isu tersebut disebut belum menjadi perhatian utama pelaku pasar keuangan internasional.
Kekhawatiran itu disampaikan Nigel Green, pimpinan deVere Group. Ia menilai besarnya utang AS bukan sekadar persoalan jangka panjang, melainkan masalah fundamental yang dapat memengaruhi arah pasar secara luas.
“Utang sebesar ini memengaruhi cara AS membiayai dirinya, bagaimana pasar menilai risiko, serta bagaimana investor melihat stabilitas ke depan,” ujar Green, dikutip dari Finnnews, Sabtu (28/3/2026).
Menurut Green, situasi tersebut diperparah oleh ketegangan geopolitik global, termasuk konflik yang melibatkan Iran. Ia menyebut dampaknya mulai terlihat melalui kenaikan harga minyak, meningkatnya volatilitas pasar, hingga gejolak pada obligasi pemerintah AS (Treasuries).
Green juga memaparkan bahwa defisit anggaran AS diperkirakan tetap berada di kisaran 2 triliun dolar AS per tahun. Sementara itu, beban bunga utang disebut telah mendekati 1 triliun dolar AS per tahun dan masih berpotensi meningkat.
“Ketika sebuah negara membayar sekitar 1 triliun dolar per tahun hanya untuk bunga, ini bukan lagi isu abstrak, ini sudah menjadi masalah nyata bagi pasar,” tegasnya.
Ia menambahkan, dampak kondisi tersebut mulai terasa pada sektor riil. Biaya pinjaman disebut meningkat, suku bunga kredit serta kredit pemilikan rumah (KPR) naik, dan aktivitas ekonomi seperti pembelian rumah menunjukkan perlambatan.
Selain itu, tingginya utang dinilai membuat AS lebih rentan terhadap berbagai guncangan, termasuk lonjakan imbal hasil obligasi, tekanan ekonomi global, hingga potensi menurunnya minat investor asing terhadap surat utang pemerintah.
Green menyoroti munculnya tanda-tanda melemahnya permintaan terhadap obligasi AS, di tengah kondisi likuiditas pasar yang disebut semakin rapuh ketika terjadi gejolak. Ia memperingatkan pasar selama ini cenderung terlalu percaya diri dengan asumsi bahwa utang AS akan selalu mudah dikelola karena besarnya ekonomi dan dominasi dolar AS dalam sistem keuangan global.
Menurutnya, sikap tersebut berisiko memicu kejutan besar di kemudian hari. Dalam jangka panjang, lonjakan utang berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi, mempertahankan suku bunga pada level tinggi, serta mengikis kepercayaan terhadap dolar AS.
Green menegaskan, utang AS seharusnya menjadi salah satu perhatian utama di pasar keuangan global saat ini. Jika terus diabaikan, dampaknya dikhawatirkan baru terasa ketika kondisi sudah terlanjur memburuk dan sulit dikendalikan.