Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 mencapai 5,11 persen secara tahunan (year on year/yoy). Sementara itu, pertumbuhan pada kuartal IV 2025 tercatat 5,39 persen.
Menurut Airlangga, capaian kuartal IV tersebut menjadi yang tertinggi kedua di antara negara-negara G-20, setelah India yang tumbuh 7,4 persen.
Airlangga menilai kinerja ekonomi Indonesia tersebut terjadi di tengah pertumbuhan ekonomi global yang cenderung stagnan di kisaran 3 persen. Ia menyebut proyeksi dari International Monetary Fund (IMF), World Bank, dan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) memperkirakan pertumbuhan ekonomi global berada pada rentang 2,9–3,1 persen.
“Indonesia di antara negara G-20 di kuartal ke IV adalah nomor dua, sesudah India yang 7,4 persen. Kalau kita lihat pertumbuhan kita yang secara year-on-year 5,11 persen,” kata Airlangga dalam Indonesia Economic Outlook 2026, Jumat, 13 Februari 2026.
Ia menjelaskan, pertumbuhan ekonomi ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang tumbuh 4,98 persen. Airlangga mengaitkan hal itu dengan stimulus ekonomi yang dinilai tepat sasaran, stabilitas harga yang terjaga, serta meningkatnya mobilitas masyarakat pada periode Natal 2025 dan Tahun Baru 2026.
Dari sisi lain, konsumsi lembaga nonprofit yang melayani rumah tangga tumbuh 5,13 persen, sejalan dengan meningkatnya aktivitas sosial dan respons kebijakan kebencanaan. Investasi yang tercermin dari pembentukan modal tetap bruto (PMTB) tumbuh 5,09 persen, sementara belanja modal pemerintah tercatat melonjak 44,2 persen.
Airlangga menambahkan, belanja pemerintah pada program prioritas dan stimulus ekonomi berperan menjaga permintaan domestik serta menjadi peredam guncangan (shock absorber) terhadap risiko perlambatan ekonomi.

