Pemerintah menyatakan ekonomi Indonesia tetap tumbuh di tengah perlambatan global dan menilai ada peluang untuk mempercepat laju pertumbuhan dalam beberapa tahun ke depan. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pertumbuhan ekonomi dunia diproyeksikan stagnan di kisaran 3 persen.
Airlangga menyebut Indonesia mencatat pertumbuhan ekonomi 5,11 persen secara tahunan (year-on-year) pada kuartal IV 2025. Menurutnya, capaian tersebut menempatkan Indonesia sebagai negara dengan pertumbuhan tertinggi kedua di antara anggota G20 pada periode yang sama, setelah India yang mencapai 7,4 persen.
Ia memaparkan, konsumsi rumah tangga tumbuh 4,98 persen. Airlangga menilai kinerja konsumsi mencerminkan stimulus yang tepat sasaran, stabilitas harga, serta meningkatnya mobilitas masyarakat pada periode Natal dan Tahun Baru.
Dari sisi investasi, pertumbuhannya tercatat 5,09 persen. Airlangga juga menyoroti belanja modal pemerintah yang melonjak 44,2 persen dan menjadi salah satu pendorong utama pada akhir tahun. Secara keseluruhan, belanja pemerintah pada kuartal IV tumbuh 4,55 persen dan disebut berperan sebagai peredam risiko perlambatan ekonomi global.
Dari sisi eksternal, ekspor tumbuh 7,03 persen. Airlangga menyatakan kenaikan nilai dan volume ekspor, serta peningkatan kunjungan wisatawan sebesar 10 persen, turut menopang kinerja perekonomian.
Sejumlah sektor mencatat pertumbuhan di atas 7 persen, antara lain transportasi, pergudangan, akomodasi, serta makan dan minum. Sepanjang 2025, mobilitas wisatawan domestik tercatat mencapai 1,2 miliar perjalanan.
Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 5,4 persen pada 2026, dengan potensi hingga 5,6 persen. Dalam jangka menengah, pemerintah mengarahkan target pertumbuhan menuju 8 persen. Airlangga menggambarkan target tersebut sebagai fase “lepas landas” yang diharapkan terjadi dalam dua tahun ke depan.
Untuk mencapai sasaran itu, pemerintah menyiapkan reformasi struktural berkelanjutan. Dari sisi produksi, pertumbuhan didorong melalui belanja negara, investasi swasta, serta penguatan pembiayaan di luar Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Dari sisi permintaan, konsumsi domestik dan ekspor diposisikan sebagai penopang utama.
Airlangga menekankan perlunya pendalaman pasar keuangan agar lebih likuid, serta pembukaan akses ekspor melalui perjanjian perdagangan. Ia mencontohkan perluasan akses pasar tekstil yang dinilai berpotensi meningkatkan ekspor hingga 10 kali lipat dalam 10 tahun.
Di tengah proyeksi pertumbuhan global 2,9 hingga 3,1 persen pada 2026, pemerintah menilai ekonomi domestik masih memiliki ruang ekspansi dan menyiapkan arah kebijakan jangka menengah untuk mengejar target pertumbuhan 8 persen.

