BERITA TERKINI
Analis: Diplomasi Pakistan Berperan Redakan Ketegangan AS-Iran dan Cegah Eskalasi Global

Analis: Diplomasi Pakistan Berperan Redakan Ketegangan AS-Iran dan Cegah Eskalasi Global

Analis kebijakan Pakistan, Nasim Zehra, menilai diplomasi Pakistan berperan penting dalam meredakan ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) serta mencegah eskalasi konflik yang lebih luas. Pernyataan itu ia sampaikan dalam Middle Powers Conference 2026 yang digelar Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) di Jakarta, Selasa, 14 April 2026.

Dalam paparannya, Zehra menyebut perundingan AS dan Iran yang berlangsung di Islamabad sebagai momen krusial yang membantu menahan laju eskalasi. Menurutnya, intervensi diplomatik Pakistan memfasilitasi terwujudnya gencatan senjata setelah agresi yang disebut dimulai pada 28 Februari.

Zehra mengklaim langkah tersebut berkontribusi terhadap stabilitas global. Ia juga menyampaikan perkiraan dampak ekonomi dari upaya itu, termasuk disebut mampu menyelamatkan nilai ekonomi global hingga USD125 triliun serta menciptakan potensi nilai ekonomi baru sebesar USD3,6 triliun.

Selain mendorong jalur dialog AS-Iran, Zehra mengatakan Pakistan turut menggalang dukungan regional dengan mempertemukan menteri luar negeri Mesir, Turki, dan Arab Saudi. Upaya itu, menurutnya, dilakukan untuk mencegah konfrontasi yang lebih luas di kawasan Teluk dan Asia Barat.

“Pembicaraan di Islamabad antara Amerika Serikat dan Iran telah menjauhkan dunia dari ambang bencana besar,” ujar Zehra.

Ia menambahkan, pemerintah Pakistan saat ini mendorong rencana perdamaian 10 poin melalui dialog intensif yang disebut turut didukung Tiongkok. Namun, Zehra menilai sejumlah isu krusial—termasuk program nuklir Iran dan dinamika di Selat Hormuz—masih menjadi hambatan utama dalam proses negosiasi.

Menurut Zehra, rangkaian langkah tersebut menunjukkan kapasitas negara berkekuatan menengah (middle power) untuk memainkan peran strategis di tengah dinamika global. Ia menilai pendekatan itu dapat menjadi model bagi negara lain, termasuk Indonesia, dalam membangun kerja sama kolektif dan memperkuat posisi dalam tatanan dunia yang terus berubah.