BERITA TERKINI
Analis: Penutupan Selat Hormuz Bisa Guncang Pasar Migas, Namun Dinilai Tak Ulang Krisis Minyak 1973

Analis: Penutupan Selat Hormuz Bisa Guncang Pasar Migas, Namun Dinilai Tak Ulang Krisis Minyak 1973

Gejolak di pasar minyak dan gas (migas) global akibat penutupan jalur perdagangan di Selat Hormuz dinilai tidak akan mengulang krisis minyak global seperti pada 1973. Meski demikian, situasi tersebut diperkirakan tetap menimbulkan guncangan besar yang berpotensi mendorong kenaikan harga komoditas migas.

Presiden Komisaris HFX Internasional Berjangka, Sutopo Widodo, mengatakan bahwa setelah krisis minyak 1973, banyak negara mulai menempuh berbagai langkah untuk memperkuat keamanan pasokan energi. Menurutnya, kondisi sebelum 1973 ditandai dengan ketergantungan tinggi dunia pada pasokan dari Timur Tengah atau Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), sementara Amerika Serikat (AS) pada masa itu masih berstatus sebagai importir minyak mentah.

Sutopo menilai peta kekuatan energi global kini telah berubah. AS disebut telah menjadi produsen minyak mentah terbesar. Selain itu, keberadaan minyak serpih (shale oil) serta peningkatan produksi dari negara-negara non-OPEC dinilai memberikan bantalan tambahan bagi pasokan minyak dunia.

Dengan perubahan struktur pasokan tersebut, para analis memandang gangguan di Selat Hormuz tetap berisiko menekan pasar migas dan mengerek harga, namun tidak serta-merta memicu krisis minyak global dengan skala seperti yang terjadi pada 1973.