Iran kembali menjadi sorotan di tengah ketegangan di Timur Tengah. Di balik rangkaian serangan dan balasan, muncul pembacaan yang lebih luas: konflik tidak hanya dipahami sebagai persoalan keamanan, tetapi juga sebagai pertemuan berbagai kepentingan yang saling menguji arah, termasuk pertimbangan ekonomi dan kekhawatiran terhadap eskalasi yang tak terkendali.
Sejumlah analisis menempatkan Iran bukan semata arena konflik, melainkan titik temu kepentingan global. Dalam tulisan Saeed Ghasseminejad dan Shervin Pishevar di iranintl, konflik Iran dipandang dari sudut yang berbeda. Mereka menilai situasi ini dapat menjadi peluang strategis bagi Amerika Serikat, terutama dalam konteks ekonomi.
Menurut mereka, Iran disebut sebagai “peluang pasar baru terbesar terakhir di dunia”. Mereka juga menuliskan bahwa Iran yang “bebas” berpotensi menghasilkan lebih dari 1 triliun dolar bagi perusahaan Amerika dalam satu dekade. Dalam kerangka tersebut, perubahan rezim tidak hanya dilihat sebagai isu politik, melainkan sebagai pintu masuk bagi integrasi ekonomi yang lebih luas.
Ghasseminejad dan Pishevar menggambarkan Iran sebagai negara dengan fondasi industri yang kuat, populasi muda yang terdidik, serta posisi geografis strategis yang menghubungkan Eurasia. Mereka bahkan menggunakan metafora bahwa transformasi Iran berpotensi “mengubah Korea Utara di Timur Tengah menjadi Korea Selatan”, untuk menekankan besarnya ekspektasi ekonomi yang mereka bayangkan.
Namun, perspektif optimistis itu berhadapan dengan penilaian lain yang menyoroti risiko ekonomi global. Adam Yousef, dalam analisisnya di Anadolu, memandang konflik ini justru berpotensi memicu krisis ekonomi dunia yang berlapis. Ia menekankan dampak serangan terhadap fasilitas energi dan blokade Selat Hormuz yang dinilai mengguncang fondasi perekonomian global.
Yousef menilai bahwa bahkan jika Selat Hormuz kembali dibuka, langkah itu belum tentu cukup untuk menurunkan harga energi. Alasannya, kerusakan produksi dan ketidakpastian yang terus berlangsung dapat menjaga tekanan harga tetap tinggi. Ia juga memperingatkan kemungkinan munculnya stagflasi—kombinasi inflasi tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang melambat—yang mengingatkan pada krisis dekade 1970-an.
Dalam pandangan tersebut, kenaikan harga energi tidak hanya berdampak pada negara maju, tetapi juga memperberat tekanan ekonomi di negara berkembang. Yousef menekankan bahwa dampak perang tidak berhenti di medan tempur, melainkan dapat merembet hingga ke kehidupan sehari-hari, termasuk biaya hidup rumah tangga di berbagai negara.
Dua pendekatan ini memperlihatkan bagaimana Iran diposisikan dalam percakapan global: di satu sisi sebagai peluang ekonomi yang besar jika terjadi perubahan politik, dan di sisi lain sebagai sumber risiko yang dapat memicu guncangan ekonomi dunia apabila konflik meluas dan mengganggu jalur energi strategis.