BERITA TERKINI
BEI Catat Tiga Obligasi pada Pekan 2–6 Maret 2026, Emisi 2026 Capai Rp40,51 Triliun

BEI Catat Tiga Obligasi pada Pekan 2–6 Maret 2026, Emisi 2026 Capai Rp40,51 Triliun

Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat terdapat tiga pencatatan obligasi selama periode 2–6 Maret 2026. Dengan tambahan tersebut, total emisi obligasi dan sukuk yang tercatat sepanjang 2026 mencapai Rp40,51 triliun.

Berdasarkan data BEI, ketiga obligasi itu mulai dicatatkan pada Rabu, 4 Maret 2026. Pertama, Obligasi Berkelanjutan V WOM Finance Tahap III 2026 yang diterbitkan PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk dengan nilai Rp1,5 triliun. Instrumen ini memperoleh peringkat idAAA dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) dengan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk sebagai wali amanat.

Pada hari yang sama, BEI juga mencatat Obligasi Berkelanjutan III Provident Investasi Bersama Tahap II Tahun 2026 yang diterbitkan PT Provident Investasi Bersama Tbk senilai Rp940 miliar. Obligasi tersebut mendapatkan peringkat idA (single A) dari Pefindo, dengan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) ditunjuk sebagai wali amanat.

Selain itu, Obligasi Berkelanjutan I RMK Energy Tahap II Tahun 2026 yang diterbitkan PT RMK Energy Tbk resmi tercatat dengan nilai Rp560 miliar. Obligasi ini memperoleh peringkat idA dari Pefindo, dengan PT Bank KB Bukopin Tbk bertindak sebagai wali amanat.

Sekretaris Perusahaan BEI Kautsar Primadi Nurahmad menyampaikan, seiring tiga pencatatan tersebut, total emisi obligasi dan sukuk yang sudah tercatat sepanjang 2026 menjadi 36 emisi dari 26 emiten dengan nilai Rp40,51 triliun.

Menurut Kautsar, secara keseluruhan total emisi obligasi dan sukuk yang tercatat di BEI berjumlah 682 emisi, dengan nilai nominal outstanding sebesar Rp565,70 triliun dan USD134,01 juta yang diterbitkan oleh 133 emiten.

Di luar itu, Surat Berharga Negara (SBN) yang tercatat di BEI berjumlah 186 seri dengan nilai nominal Rp6.683,44 triliun dan USD352,10 juta. Sementara Emisi Beragun Aset (EBA) tercatat sebanyak 7 emisi senilai Rp3,67 triliun.

Dalam perkembangan pasar saham, IHSG tercatat melemah pada perdagangan 23–27 Februari 2026. Data BEI menunjukkan IHSG turun 0,44% ke level 8.235,48, setelah pada pekan sebelumnya naik 0,7% ke posisi 8.271,76. Kapitalisasi pasar turut turun 1,03% menjadi Rp14.787 triliun dari Rp14.941 triliun.

Analis PT MNC Sekuritas Herditya Wicaksano menilai pelemahan IHSG disertai tekanan jual dan pergerakannya belum mampu menembus moving average (MA) 20 harian. Ia menyebut beberapa faktor yang memengaruhi, antara lain meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah, ketidakpastian kebijakan tarif Amerika Serikat, serta meningkatnya kekhawatiran investor yang turut mendorong kenaikan harga emas dunia. Herditya juga menyinggung peringatan dari S&P terkait risiko fiskal Indonesia.

Selama periode tersebut, rata-rata frekuensi transaksi harian turun 3,72% menjadi 2,95 juta kali transaksi dari 3,06 juta kali transaksi pada pekan sebelumnya. Di sisi lain, investor asing membukukan beli bersih saham senilai Rp4,90 triliun selama sepekan, meningkat dibanding pekan sebelumnya Rp2,07 triliun.

BEI juga mencatat rata-rata nilai transaksi harian naik 25,35% menjadi Rp29,52 triliun dari Rp23,89 triliun pada pekan sebelumnya. Rata-rata volume transaksi harian meningkat 8,55% menjadi 51,02 miliar saham dari 47 miliar saham.

Sebelumnya, pada perdagangan 16–20 Februari 2026, IHSG menguat 0,72% ke posisi 8.271,76, sementara kapitalisasi pasar naik 0,35% menjadi Rp14.941 triliun dari Rp14.889 triliun. Pengamat pasar modal Reydi Octa menyebut pergerakan IHSG masih dipengaruhi sentimen global dan domestik, termasuk arah suku bunga The Federal Reserve, tensi geopolitik, pergerakan harga komoditas, serta isu reformasi pasar, free float, dan aliran dana asing yang memengaruhi psikologi investor.