Bursa Efek Indonesia (BEI) merespons pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa hari terakhir di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, menyusul serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran.
Pjs Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menilai kondisi pasar saat ini masih relatif lebih baik dibandingkan gejolak yang terjadi pada April 2025, ketika kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump memicu penurunan pasar yang tajam.
“Saat itu, itu juga mengakibatkan penurunan pasar yang sangat tajam. Dan pada saat itu apa yang kita alami lebih buruk dalam konteks pasar daripada hari ini,” kata Jeffrey saat ditemui di sela acara Peluncuran IDX Mobile Sharia di Gedung BEI, Jakarta, Senin (9/3).
Jeffrey menegaskan, BEI telah menyiapkan sistem infrastruktur serta perangkat regulasi untuk menghadapi dinamika dan volatilitas pasar yang sedang berlangsung.
“Jadi oleh karena itu sistem infrastruktur dan peraturan di bursa kita sudah siap untuk menghadapi dinamika pasar yang sedang ada,” ujar Jeffrey.
Pada perdagangan Senin (9/3), IHSG bergerak di zona merah sepanjang hari dan ditutup turun 248,318 poin atau 3,27 persen ke level 7.337,369. Indeks LQ45 juga melemah 25,471 poin (3,28 persen) ke 750,575.
Secara mingguan, IHSG pada periode 2–6 Maret 2026 ditutup di level 7.585,687, turun 7,89 persen dari posisi 8.235,485 pada pekan sebelumnya, di tengah konflik Iran-Israel dengan AS.
Sekretaris Perusahaan BEI Kautsar Primadi Nurahmad menyampaikan, kapitalisasi pasar BEI turut turun 7,85 persen menjadi Rp 13.627 triliun dari Rp 14.787 triliun pada pekan sebelumnya.
“Rata-rata frekuensi harian BEI juga ditutup berubah sebesar 7,33 persen sebesar 2,73 juta kali transaksi dari 2,95 juta kali transaksi pada penutupan pekan sebelumnya,” kata Kautsar dalam keterangannya, dikutip Senin (9/3).
Selain itu, rata-rata nilai transaksi harian BEI turun 16,64 persen menjadi Rp 24,97 triliun dari Rp 29,95 triliun pada pekan sebelumnya. Rata-rata volume transaksi harian juga turun 17 persen menjadi 42,34 miliar lembar saham dari 51,02 miliar lembar saham pada pekan sebelumnya.

