Jakarta - Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat kinerja pasar modal syariah Indonesia menunjukkan capaian kuat sepanjang 2025. Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) disebut menjadi indeks saham syariah dengan performa terbaik dibandingkan sejumlah indeks syariah global yang kerap dijadikan acuan investor internasional.
Dalam kegiatan Edukasi Wartawan bertema Pasar Modal Syariah yang digelar secara virtual pada Kamis (26/2/2026), Irwan menyampaikan bahwa pertumbuhan ISSI pada 2025 mencapai 43,1%. Angka ini lebih tinggi dibandingkan Dow Jones Islamic Market Index yang pada periode yang sama tumbuh 18,2%.
Menurut Irwan, selisih kinerja tersebut mencerminkan daya tahan dan potensi pasar saham syariah domestik. Ia menilai capaian itu turut menegaskan pasar modal syariah Indonesia semakin kompetitif di tingkat internasional, baik dari sisi likuiditas, jumlah investor, maupun kualitas emiten yang tergabung dalam indeks syariah.
Tak hanya dibandingkan indeks global, Irwan juga menyinggung perbandingan dengan negara tetangga. Ia menyebut indeks syariah Malaysia justru mencatat kinerja negatif sepanjang tahun lalu, meski Malaysia dikenal sebagai salah satu pusat keuangan syariah dunia.
Irwan menambahkan, jika dibandingkan dengan indeks lain seperti MSCI Islamic Index maupun S&P OIC Index, pertumbuhan ISSI dinilai lebih tinggi. Ia juga menyebutkan bahwa jika dilihat sejak ISSI diluncurkan atau selama 15 tahun, kinerja indeks ISSI berada di peringkat ketiga terbesar dan hanya berada di bawah Dow Jones Islamic Market Index.
Sementara itu, pengamat pasar modal Reydi Octa menilai saham syariah memiliki karakter defensif yang cukup kuat, terutama menjelang momentum Ramadan. Menurutnya, secara historis saham berbasis prinsip syariah cenderung lebih defensif karena mayoritas berbasis sektor riil.
Reydi menyampaikan potensi kenaikan saham syariah tetap terbuka selama bulan puasa, terutama ketika konsumsi domestik meningkat. Namun ia menekankan, faktor musiman bukan satu-satunya penentu karena pergerakan saham syariah tetap dipengaruhi kondisi pasar secara keseluruhan, termasuk dinamika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) serta aliran dana investor asing.
Ia juga menilai waktu yang kerap dianggap tepat untuk mulai mengoleksi saham syariah umumnya berada pada rentang dua hingga empat minggu sebelum Ramadan, ketika harga saham biasanya belum bergerak signifikan karena sentimen Lebaran belum sepenuhnya tercermin di pasar.
Meski demikian, Reydi mengingatkan adanya risiko yang perlu diantisipasi menjelang Idulfitri, salah satunya aksi ambil untung atau profit taking ketika harga saham sudah mengalami kenaikan selama Ramadan.

