BERITA TERKINI
BEI Siapkan Daftar Konsentrasi Pemegang Saham, Analis Ingatkan Risiko Tekanan Modal Global

BEI Siapkan Daftar Konsentrasi Pemegang Saham, Analis Ingatkan Risiko Tekanan Modal Global

JAKARTA – Bursa Efek Indonesia (BEI) berencana merilis Shareholders Concentration List atau Daftar Konsentrasi Pemegang Saham pada akhir Februari ini sebagai bagian dari upaya meningkatkan transparansi pasar modal. Namun, rencana tersebut mendapat sorotan karena dinilai berpotensi menjadi celah bagi modal global untuk menarik likuiditas domestik, terutama di tengah tekanan sentimen dari indeks internasional.

Analis ekonomi politik pasar modal, Kusfiardi, menilai pengaruh indeks global terhadap arus modal pasif sangat besar. Ia mencontohkan MSCI yang disebut memiliki aset terindeks sekitar USD18 triliun, sehingga memiliki daya tekan kuat terhadap aliran dana global. Menurutnya, ketika status Indonesia dipertanyakan atas nama transparansi, isu tersebut tidak semata terkait tata kelola, melainkan bisa menjadi alat leverage dalam politik pasar.

Kusfiardi juga menyebut ancaman peninjauan status Indonesia oleh lembaga pemeringkat pada Januari lalu telah memicu aliran modal keluar (net outflow) sekitar Rp13 triliun. Ia menilai peristiwa itu menunjukkan kuatnya pengaruh indeks global terhadap stabilitas pasar keuangan nasional, sehingga kebijakan transparansi perlu disertai proteksi struktural yang memadai.

Secara teknis, pembukaan data Ultimate Beneficial Owner (UBO) dan daftar pemegang saham di bawah 5 persen disebut bertujuan untuk memberantas manipulasi pasar. Meski demikian, Kusfiardi memperingatkan data tersebut berisiko dimanfaatkan oleh algoritma high-frequency trading dan robot trading asing untuk menyusun strategi akumulasi maupun distribusi saham secara lebih presisi.

Ia menambahkan, struktur pasar negara berkembang (emerging markets) saat ini cenderung terbuka terhadap arus modal jangka pendek yang kerap menjadi sumber volatilitas. Tanpa adanya “firewall” atau benteng struktural, transparansi yang berlebihan dinilai dapat berdampak negatif terhadap kedaulatan pasar modal Indonesia dalam jangka panjang.